Image

5 Dampak Politis Rencana Pemindahan Kedubes AS ke Yerusalem

Djanti Virantika, Jurnalis · Kamis 07 Desember 2017, 22:05 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 12 07 18 1827028 5-dampak-politis-rencana-pemindahan-kedubes-as-ke-yerusalem-BmNucMoBbF.jpg Kota Yerusalem. (Foto: Reuters)

JAKARTA – Pemerintah Amerika Serikat (AS) memutuskan untuk memindahkan kedutaan besarnya di Arab Saudi ke Yerusalem. Keputusan ini tentu akan memberikan dampak dan konsekuensi politis terhadap perpolitikan Timur Tengah maupun di tingkat global.

Pengamat politik Timur Tengah, Muhammad Ja’far, membenarkan kemungkinan dampak tersebut. Menurutnya, ada lima dampak yang dapat ditimbulkan dari keputusan AS memindahkan kedubesnya itu.

Pertama, keputusan pemerintah AS ini secara langsung menunjukkan bentuk pengakuan resmi mereka bahwa Yerusalem adalah ibu kota resmi Israel. Di sisi lain, keputusan pemerintah AS justru menjadi bentuk penolakan Negeri Paman Sam atas keabsahan hak politik Palestina terhadap Kota Yerusalem. Padahal, sampai saat ini perundingan damai Palestina-Israel belum memutuskan status legal politik Yerusalem.

“Dengan kata lain keputusan pemerintah AS ini tidak mencerminkan prinsip netralitas politik luar negeri AS, terutama dalam konteks konflik politik Palestina-Israel. Selain itu, keputusan pemerintah AS juga tidak mencerminkan penghormatan hak-hak politik dasar Palestina terhadap wilayah teritorinya,” ujar Muhammad Ja’far dalam sebuah rilis yang diterima Okezone, Kamis (7/12/2017).

BACA JUGA: Tiga Hal yang Perlu Diketahui Tentang Kota Suci Yerusalem

Kedua, keputusan pemerintah AS secara politik dan diplomatik juga merupakan bentuk pengakuan mereka bahwa Israel adalah pemilik legal atas teritori Yerusalem. Selain itu, keputusan ini juga bentuk pengakuan bahwa Israel adalah negara yang secara sah memiliki otoritas politik-kenegaraan atas Yerusalem sebagai ibu kota negaranya.

“Artinya, dengan keputusan ini, pemerintah AS telah mengabaikan dan melanggar hak-hak politik negara Palestina atas Kota Yerusalem yang hingga kini sebenarnya masih menjadi teritori yang diperebutkan. Keputusan pemerintah AS ini menunjukkan visi politik luar negeri yang memihak pada Israel,” lanjutnya.

Ketiga, keputusan pemerintah AS juga akan mendelegitimasi seluruh pencapaian perundingan damai Palestina-Israel yang telah dicapai selama ini, baik oleh pemerintah AS terdahulu maupun elemen dunia internasional. Sebab, pengakuan secara sepihak pemerintah AS atas status Yerusalem merupakan pelanggaran terhadap klausul kesepakatan damai yang disepakati selama ini oleh kedua negara tersebut. Keputusan Pemerintah AS ini merupakan bentuk pelanggaran serius terhadap konsep perdamaian Palestina-Israel.

BACA JUGA: Akui Yerusalem Ibu Kota Israel, JK Sindir Politik Luar Negeri AS

Keempat, keputusan pemerintah AS ini merupakan keputusan politik dan diplomatik paling ekstrem yang pernah diambil. Sebelumnya, mereka tidak pernah menerapkan kebijakan politik luar negerinya seperti ini terhadap Palestina. Oleh karena itu, keputusan pemerintah AS akan mendegradasi posisi mereka sebagai mediator dalam merancang peta jalan damai Palestina-Israel. Selain itu, keputusan ini juga akan merusakan citra politik AS di dunia internasional, terutama dunia Islam.

Terakhir, keputusan pemerintah AS akan memicu instabilitas politik dan keamanan di tingkat regional Palestina dan Israel, terutama di kawasan Timur Tengah. Status politik Yerusalem sangat sensitif bukan hanya dalam konteks Timur Tengah, tapi juga dunia Islam secara keseluruhan. Keputusan ini juga berpotensi memicu kemarahan dunia Islam secara global.

BACA JUGA: Dunia Bergejolak Jika Yerusalem Jadi Ibu Kota Israel

Menurut Ja’far, kelima konsekuensi dan dampak politis ini merupakan efek yang tidak dapat dihindarkan. Pemindahan Kedubes AS ke Yerusalem secara simbolik maupun realistis sangat berisiko tinggi terhadap politik. (DJI)

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini