MESKI beragam organisasi di dunia yang membela hak asasi manusia (HAM), tetap saja tragedi kemanusiaan tak terelakkan. Khususnya pada 2017, tragedi kemanusiaan yang satu ini menjadi sorotan dunia.
Persekusi yang menimpa etnis Rohingya, warga Muslim di Rakhine, Myanmar, menjadi salah satu konflik yang paling disorot pada 2017. Rohingya hidup dalam mimpi buruk selama empat tahun terakhir. Yang lebih mengenaskan, warga Rohingya dianggap sebagai kelompok stateless atau tidak memiliki kewarganegaraan.
Asal Mula Konflik
Foto: Reuters
Tak banyak yang mengetahui bagaimana konflik ini bermula. Namun yang pasti, berbagai perlakuan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) sudah menimpa warga Rohingya sejak 2012. Rohingya merupakan kelompok etnis di Myanmar yang dinyatakan tidak memiliki kewarganegaraan. Rakhine State sendiri menjadi rumah bagi lebih dari satu juta orang Rohingya yang mayoritasnya adalah Muslim. Hal tersebut pun membuat Rohingya dinyatakan sebagai populasi yang tidak memiliki kewarganegaraan terbesar di dunia.
BACA JUGA: Militer Myanmar Musnahkan 214 Desa Rohingya
Kekerasan Melibatkan Militer
Foto: Reuters
Pada 25 Agustus 2017, Militer Myanmar menyerang desa di Rakhine yang mayoritasnya ditinggali oleh etnis Rohingya. Tentara Myanmar menghancurkan setidaknya 1.500 bangunan dan menembaki pria yang tak bersenjata, wanita, dan anak-anak. Bahkan ada video yang muncul menunjukkan penduduk desa duduk di tanah dengan tangan di atas kepala mereka dan tampak seorang tentara memukul salah seorang pria.
Para tentara Myanmar berdalih melakukan hal tersebut untuk menumpas aksi “teror” dari kelompok etnis Rohingya. Namun setelah ditelusuri, justru terdapat 1.000 korban lebih yang dibunuh oleh tentara tersebut. Tak hanya dibunuh, beberapa di antaranya juga diperkosa terlebih dahulu. Lebih mirisnya lagi, anak-anak juga termasuk menjadi korban.
Bahkan seorang saksi yang merupakan warga desa tersebut menuturkan, tentara Myanmar datang dan melepaskan tembakan secara diskriminatif. Warga sipil yang datang menemani para tentara itu lantas menjarah dan membakar habis rumah-rumah di desa tersebut.
Eksodus Besar-besaran
Foto: Reuters
Terbakarnya tempat tinggal dan perlakuan yang tidak manusiawi membuat etnis Rohingya memutuskan untuk meninggalkan tanah airnya. Banyak etnis Rohingya yang selalu berusaha untuk melarikan diri dari rumahnya sendiri. Seperti kabur ke negara tetangga yaitu Bangladesh, Malaysia, dan Indonesia.
Bangladesh sendiri merupakan negara “favorit” bagi etnis Rohingya untuk melarikan dirinya. Sekira 600 ribu lebih etnis Rohingya kini berada di negara tersebut.