Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Konflik Rohingya, Tragedi Kemanusiaan yang Jadi Sorotan Dunia Sepanjang 2017

Putri Ainur Islam , Jurnalis-Selasa, 12 Desember 2017 |12:01 WIB
Konflik Rohingya, Tragedi Kemanusiaan yang Jadi Sorotan Dunia Sepanjang 2017
Pengungsi Rohingya di Cox's Bazar, Bangladesh, 14 Seotember 2017. (Foto: Reuters)
A
A
A

Keluarnya etnis Rohingya dari “neraka” bukan berarti mereka akan selamat dan bahagia. Membeludaknya pengungsi membuat rakyat termiskin di Myanmar tersebut kekurangan makanan. Menurut UNICEF, kehidupan anak-anak Rohingya sangatlah menyedihkan. Mereka kekurangan makanan, air bersih, dan perawatan medis.

BACA JUGA: Bangladesh Ubah Sebuah Pulau Jadi Rumah Sementara Pengungsi Rohingya

Selain itu, sekira 13.751 anak Rohingya kehilangan orangtuanya. PBB dan badan-badan lain juga telah memperingatkan masalah kemanusiaan yang dapat terjadi di kamp-kamp pengungsi yang padat di Bangladesh, terutama mengingat tingginya jumlah anak-anak dan perempuan rentan yang tinggal di pengungsian yang berada di Cox’s Bazaar tersebut.

Kecaman Dunia Terhadap Aung San Suu Kyi

Foto: Reuters

Banyak pihak berpendapat bahwa tindakan kekerasan yang menimpa Rohingya adalah tindakan genosida. Hal tersebut disebabkan karena seolah-olah konflik tersebut didiamkan dan tak pernah diselesaikan. Bahkan pemimpin de facto Myanmar yang juga peraih Nobel Perdamaian, Aung San Suu Kyi, seolah bisu saat dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan seputar langkah apa yang akan ia lakukan untuk menyelesaikan permasalahan Rohingya. Bahkan meski telah diancam Hadiah Nobel-nya akan dicabut, Aung San Suu Kyi masih bergeming. Banyak orang membuat petisi agar gelar tersebut dicabut dari Suu Kyi.

Salah satu pemimpin negara yang cukup tegas dalam mengkritik Suu Kyi dan Pemerintah Myanmar adalah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Erdogan menuding Pemerintah Myanmar telah melakukan kejahatan genosida terhadap etnis Rohingya. Pernyataan tersebut disampaikan Erdogan dalam sebuah pidato di Istanbul bertepatan dengan perayaan hari raya Idul Adha.

Selain itu pada Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Sabtu 23 September, Arab Saudi mengecam kebijakan represif Myanmar terhadap warga minoritas Muslim Rohingya.

"Negara saya benar-benar prihatin dan mengecam kebijakan penindasan serta penelantaran yang dilakukan Pemerintah Myanmar terhadap warga minoritas Rohingya," ujar Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel Ahmed Al-Jubeir.

BACA JUGA : Oxford Cabut Penghargaan untuk Aung San Suu Kyi

Negara-negara Islam dari Organisasi Kerjasama Islam (OKI) menulis surat secara langsung kepada Sekjen PBB dan Suu Kyi meminta Myanmar agar berhenti mengirim tentara untuk menghadapi Rohingya.

OKI sangat mengecam pembantaian etnis Rohingya dan pembakaran desa-desa mereka oleh tentara. Myanmar dianggap melanggar komitmen internasional mereka sendiri yaitu melindungi warga sipil.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement