JAKARTA - Operasi Lilin 2017 menjelang hari raya Natal dan Tahun Baru dimulai sejak tanggal 22 Desember 2017 sampai 2 Januari 2018. Setidaknya ada 250 ribu aparat gabungan TNI, Polri dan Pemda dikerahkan amankan dua perayaan besar itu.
"Timelinenya adalah 22 Desember mulai besok sampai dengan 2 Januari. Semua kegiatan rapat awal sudah dilaksanakan dengan kebersamaan. Memang ada beberapa prediksi bisa menjadi potensi gangguan," ujar Tito di Silang Monas, Jakarta Pusat, Kamis (21/12/2017).
(Baca Juga: 5 Amanat Panglima TNI Hadi Tjahjanto ke Prajurit Pengamanan Natal & Tahun Baru)
Potensi gangguan itu, kata Tito pertama bisa muncul dari kelompok terorisme. Bahkan, dia sangat mewaspadai aksi Lone Wolf terorisme yang justru sulit diprediksi pergerakannya. Meskipun begitu, Tito mengungkapkan bahwa hingga saat ini belum ada informasi terkait dengan serangan teror.
(foto: Puteranegara B/Okezone)
"Lone Wolf yang mereka gerak sendiri lebih sulit dideteksi seperti peristiwa Eropa dan Amerika itu banyak Lone Wolf terkahir Manhattan serangan juga itu Lone Wolf," papar Tito.
Oleh karena itu, Tito menginstruksikan kepada seluruh jajaran kepolisian untuk memperkuat dan memperketat pengamanan tempat ibadah keagamaan Natal. Mengingat, objek tersebut kerap menjadi targeran aksi teror.
"Misal tempat ibadah, pengamanan dilakukan dilibatkan unsur TNI Polri Pemda dan kemiludian juga anggota masyarakat volunteeer seperti Anshor NU yang banyak ikut amankan Gereja," ungkap Tito.
Tito menyebut potensi gangguan berikutnya adalah arus mudik dan balik saat perayaan Natal dan Tahun Baru. Pasalnya, mudik merupakan tradisi rutin yang dilakukan masyarakat dalam jumlah besar.
"Kedua arus mudik dan balik relatif cukup panjang. Mulai besok mungkin ada arus mudik dan balik. Imbauan saya ke masyarakat karena nanti Gringsing itu sedang perbaikan maka akan kembali Ke Pantura dan jalur selatan ini juga perlu waspadai," ujar Tito.
(Baca Juga: 250 Ribu Aparat Gabungan Dikerahkan untuk Amankan Natal dan Tahun Baru)
Selanjutnya, Tito menyebut jajarannya juga melakukan pemantauan terhadap harga pangan di masyarakat. Bersama dengan satgas pangan, Tito akan membantu mewujudkan stabilitas harga pangan di beberapa wilayah Indonesia.
Tito menegaskan apabila ada pihak distributor nakal yang sengaja menimbun atau menaikkan harga, maka pihaknya tak segan untuk melakukan proses hukum.
"Daerah yang harganya naik cepat kami cek oleh tim setempat masalahnya apa, kalau supply harus dicukupi kalau distribusi ada yang nakal penimbunan segala macam tertibkan baik soft warning maupun penegakkan hukum," kata Tito.