“Para pelajar paham bahwa mereka hanya diberikan waktu satu jam untuk meninggalkan alun-alun, tetapi setelah lima menit aparat tiba-tiba menyerang,” tulis Sir Alan Donald dalam kawat diplomatik itu, mengutip dari BBC, Minggu (24/12/2017).
“Para pelajar saling berangkulan tetapi dilindas, termasuk tentara. Aparat kemudian menggilas mayat-mayat itu berkali-kali untuk membuat ‘pai’ dan potongan tubuh dikumpulkan dengan bulldozer. Sisa jenazah kemudian dibakar dan dibuang lewat saluran air. Empat orang gadis yang terluka sempat memohon ampun tetapi ditusuk dengan bayonet,” tutup Sir Alan Donald.
Ia mencatat bahwa beberapa anggota Dewan Negara sempat memperhitungkan adanya perang sipil. Sebagaimana informasi, unjuk rasa tersebut berlangsung selama tujuh pekan sebelum tentara dikirim untuk mengamankan keadaan.
Unjuk rasa di Tiananmen itu merupakan yang terbesar sepanjang sejarah China. Pembantaian tersebut masih menjadi hal yang sensitif di Negeri Tirai Bambu. Beijing melarang segala bentuk peringatan yang digelar aktivis serta mengatur agar diskusi tentang tragedi itu disensor secara ketat di internet.
(Wikanto Arungbudoyo)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.