Miniatur kandang Natal yang dibikin di gereja itu bukan untuk dijadikan sebagai bahan sembah berhala, tetapi untuk mengingatkan dan mengenang kisah kelahiran Yesus sang agung anak Allah yang menjadi manusia turun ke dunia melalui kelahiran seperti manusia lainnya.
"Namun pilihan Tuhan adalah sebuah kandang di padang di lokasi yang sunyi dan dingin dan hanya ditemani kawanan domba dan ternak serta pengembalanya," kata Simon.
(Baca Juga: Jelang Natal, Polisi Berbagi Kasih Bersama Suku Anak Dalam)
Yesus mau menunjukan bahwa semua orang sama di mata Tuhan meskipun dia yang terlahir dari keluarga tak mampu sekalipun. "Hanya perbuatan kasih yang bisa menaikan derajad kemanusiaan kita di hadapan Allah saat kita beralih ke akhirat mempertanggung jawabkan kehidupan kita di dunia fana ini," sambungnya.
Proses Pembuatan Miniatur Kandang Tempat Lahir Yesus Sang Juru Selamat (foto: Adi Rianghepat/Okezone)
Sama halnya dengan umat Katolik wilayah VII, pemuda Protestan GMIT Lanud El Tari Penfui-Kupang juga memiliki tradisi sama. Membuat kandang Natal baik di gereja maupyn secara berkelompok (rayon).
Tidak membutuhkan banyak bahan dan biaya. Sejumlah pemuda Rayon V Air Baru masing-masing Melkias Boboy, Andi Ola, Dikon Klakik dan dibantu beberapa penatua Noh Blegur, Yusp Boboy dan Mety, kandang Natal ala rayon usai.
Menurut Melkias Boboy, tradisi pembuatan kandang Natal di setiap rayon dimaksud agar setiap jemaat dan terutama kaum muda bisa kembali menikmati semangat natala dalam kebersamaan yang utuh. Kemajuan ilmu dan teknologi di zaman ini telah memberi jarak antarumat, meskipun dalam satu lingkunan di rayon.
Dengan kerja bersama kandang Natal rayon ini dipastikan akan terbangun kembali semangat gotong royong. Dengan demikian maka bela rasa sebagai sesama jemaat akan terus terawat.