nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

George Weah

Hotlas Mora Sinaga, Jurnalis · Jum'at 29 Desember 2017 17:21 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 12 29 17 1837542 george-weah-kzgv7XE6kn.jpg George Weah. (Foto: Reuters)

Pada Januari 2000, AC Milan meminjamkan Weah ke Chelsea dari London, Inggris. Ia memberikan kontribusi penting bagi kemenangan Football Association di tim tersebut.

Dalam perjalanan kariernya, Weah juga bermain sebentar dengan Manchester City dan Marseille di Prancis. Perolehan golnya menurun drastis saat itu. Weah sudah jarang dimainkan hingga ditransfer ke Al-Jazira, klub asal Abu Dhabi, sebelum memutuskan pensiun.

Weah mendirikan rumah baru untuk keluarganya di New York, Amerika Serikat. Meski begitu, ia tetap mempertahankan hubungan dekat dengan Liberia.

Di negaranya sendiri, ia dikenal sebagai "Raja George" yang sangat populer dan dicintai. Apalagi ketika kemiskinan dan perang saudara pada 1990-an, Weah mampu mempertahankan Lone Star, julukan tim nasional Liberia untuk tetap bermain.

Saat itu, ia rela bermain, melatih, dan membiayai tim sekaligus. Bahkan pada 2002, Lone Star hampir lolos ke Piala Dunia. Namun setelahnya, mereka tampil buruk di Piala Afrika dan Weah memutuskan pensiun dari sepakbola.

Setelah penggulingan Presiden Charles Taylor pada 2003, Weah kembali ke Liberia sebagai Duta Persahabatan untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pada 2005, Weah mencalonkan diri sebagai presiden negara tersebut sebagai anggota partai Kongres untuk Perubahan Demokratis (CDC).

Setelah memenangkan putaran pertama pemungutan suara, ia dikalahkan oleh Ellen Johnson Sirleaf dari Partai Persatuan (UP) pada November 2005. Weah awalnya menantang hasil pemilihan di pengadilan, namun ia menarik tuntutannya sebulan berikutnya.

George Weah terjun ke dunia politik karena tidak puas dengan pemerintahan Ellen Johnson Sirleaf. (Foto: Reuters)

Weah menghadapi Johnson Sirleaf lagi dalam pemilihan presiden pada Oktober 2011, namun kali ini sebagai calon wakil presiden bersama calon presiden Winston Tubman. Johnson Sirleaf dan Tubman sama-sama meraih suara terbanyak, untuk itu pemilihan putara kedua diadakan pada 8 November.

Kurang dari seminggu sebelum pemilihan, Tubman mengutip keluhan CDC tentang penyimpangan pada putaran pertama pemungutan suara, ia pun mengundurkan diri dari persaingan tersebut. Ia juga mendesak pendukungnya untuk memboikot pemilihan.

Pengamat internasional, yang sebelumnya mengumumkan putaran pertama pemungutan suara untuk bebas dan adil, mengatakan bahwa tuduhan tersebut tidak berdasar. Johnson Sirleaf pun terpilih kembali dengan selisih sangat jauh.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini