PERTARUNGAN di Pilkada Serentak mulai terasa panas, bahkan sebelum pendaftaran dibuka oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) 8 Januari 2018 kemarin. Setiap pasangan calon unjuk gigi ke hadapan publik demi kursi kepala daerah. Berbagai intrik pun mulai terjadi, seperti mundurnya Azwar Anas tiga hari sebelum jadwal pendaftaran dibuka karena skandal foto ‘syur’ diduga dirinya beredar di masyarakat.
Di tengah banyaknya calon berlatar belakang sipil yang maju, sejumlah tokoh militer mencuat di pesta demokrasi kali ini. Kemunculan calon militer ini tentu menambah sengit peta persaingan di sejumlah daerah, mengingat banyak pemilih yang menilai orang militer punya ‘ketegasan’ yang kini banyak hilang dari watak pemimpin.
Mereka yang berasal dari kalangan militer yang maju di Pilkada adalah Pangkostrad Letjen Edy Rahmayadi (bacagub Sumut), Komandan Korem 031 Wira Bima Brigjen Edy Natar Nasution (bacawagub Riau), Kapenrem 041 Gamas Mayor Infanteri David Suardi (bacawalkot Bengkulu). Sedangkan yang purnatugas antara lain Mayjen TNI (purn) Sudrajat (bacagub Jabar) dan Mayjen TNI (purn) TB Hasanuddin (bacagub Jabar).
(Baca juga: Jokowi: Jangan Mencela, Menjelekkan dan Pakai Kampanye Hitam di Pilkada)
Namun jalan ‘orang militer’ taklah mudah, karena menurut Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Titi Anggraini kepada Koran SINDO, memenangkan pertarungan di Pilkada tak seperti bertempur di medan perang.
“Memenangkan pilkada beda dengan memenangkan medan pertempuran,” kata Titi.
Peluang kalangan militer untuk merebut kursi pimpinan daerah tentu terbuka, namun taklah mudah. Jika melihat data Pilkada 2015, dari 17 anggota TNI yang maju hanya 4 yang menang. Sedangkan di 2017, dari 4 anggota TNI yang bertanding, 2 di antaranya jadi pemenang.
Edy Rahmayadi
Mantan Pangkostrad ini saat pendaftaran di KPU Sumut menyebut dirinya sebagai bakal calon gubernur yang paling banyak didukung partai. Hal itu tentu melihat dari 6 partai besar yang ‘keroyokan’ memberikan dukungan ke Edy, yakni Gerindra, PKS, PAN, Golkar, Nasdem dan Hanura.
(Baca juga: Persaingan Letjen Edi Rahmayadi vs Djarot Syaiful Hidayat Diprediksi Berlangsung Ketat)
Butuh waktu 5 jam bagi Edy dan Musa Rajekshah (Ijeck) untuk mendaftar di KPU. "Memerlukan waktu, karena partai yang mengusung kami banyak. Berkas yang dilengkapi termasuk persyaratan diri pribadi," ujarnya, Senin 8 Januari 2018.