nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menakar Kekuatan "Suara Jawa" di Pilgub Sumut

Erie Prasetyo, Jurnalis · Senin 15 Januari 2018 15:48 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 01 15 340 1845196 menakar-kekuatan-suara-jawa-di-pilgub-sumut-TA5RuyhzO8.jpg Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)

MEDAN - Tahapan Pemilihan Gubernur Sumatera Utara (Pilgub Sumut) tahun 2018 masih berlangsung. Sampai kini, KPU Sumut telah menerima pendaftaran dari tiga bakal pasangan calon (paslon) gubernur dan wakil gubernur.

Menurut pengamat politik, setiap Pilkada di Sumut, pendekatan suku dan agama tetap efektif dalam penghitungan peluang dalam suksesi.

Walau Provinsi Sumut terkenal dengan suku bataknya, namun berdasarkan sensus tahun 2010, ternyata Suku Jawa menjadi salah satu suku dengan jumlah terbanyak di Sumut.

(Baca Juga: Pilgub Sumut 2018, 2 Juta Pendukung Tengku Erry Ancam Golput)

"Soal kekuatan suara suku jawa, kita bagi jadi Jawa Santri dan Jawa Abangan. Jawa Santri secara kultural berafiliasi dan menjadi bagian dari pengendali dalam organisasi seperti Al-Washliyah, Muhammadiyah dan NU," ujar pengamat politik, Shohibul Anshor, Senin (15/1/2018).

Ditambahnya, Jawa Santri menjadi pendukung Majelis Ta'lim dan Perwiridan yang rutin setiap Kamis malam Jum'at. Afiliasi politiknya akan ke PKS, PAN, PBB, PPP dan tak tertutup juga di partai lain tak kecuali PDIP.

"Affan mantan Sekum PDIP Sumut adalah sedikit dari contoh santri yang diberi reward di partai non-agamis. Meski dalam jumlah yang sangat sedikit. Bisa dihitung jarilah," katanya.

Sedangkan, Jawa Abangan tampil mengaktualisasikan diri pada organisasi-organisasi etnis seperti Pujakesuma, Pendowo, FKWJ, PJB dan lain-lain. Secara politik umumnya merasa nyaman masuk ke partai-partai seperti PDIP, Golkar, Gerindra, Demokrat dan lain-lain. Wagirin Arman (Ketua DPRD Sumut) adalah contoh untuk Golkar.

(Baca Juga: Isu Agama Diprediksi Bakal Sudutkan Djarot di Pilgub Sumut)

"Mana jumlah paling besar dari kedua komunitas itu? Untuk tidak ceroboh kita sama ratakan saja, fifty-fifty," lanjutnya.

Berdasarkan, sensus penduduk tahun 2015, penduduk Sumatera Utara berjumlah 13.937.797 jiwa. Lalu, dari jumlah itu, sensus suku penduduk Sumut tahun 2010, yang terbesar adalah Suku Jawa dengan 32,6 persen.

Sedangkan sensus untuk Suku Batak sebesar 41,9 persen. Namun, untuk sensus Suku Batak itu digabung dengan beberapa suka lain yakni, Mandailing, Karo, Batak dan lainnya.

Lalu 3 suku terbesar lainnya adalah Nias 6.36 persen, Melayu 5.92 persen dan Tionghoa 3.07 persen. Sedangkan suku lainnya di bawah 3 persen.

"Ada jenis lain dari komunitas Jawa di Sumut, yakni Kejawen. Mereka seperti penganut Ugamo Malim yang berpusat di Tapanuli. Jumlah mereka tidak dominan meski sangat efektif mengendalikan komunitasnya," kata Shohibul.

Akademisi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) ini juga mengatakan, Jawa Santri lebih mudah melakukan appeal kepada Jawa Abangan untuk penentuan pilihan politik karena otoritas ganda. Tidak ada pemimpin organisasi abangan yang bisa mengappeal tokoh Jawa Santri dalam pilihan politik. Tetapi sebaliknya tokoh Jawa Santri dapat melakukan itu karena jamak mereka menjadi panutan di dua komunitas.

"Apakah tak ada hitungan lain, misalnya Kristen Jawa, Katholik Jawa dan lain-lain? Ada, tapi jumlahnya tak begitu banyak. Saya tak punya data tentang ini," pungkas Shohibul.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini