nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dari Kursi Bisnis ke MPR, Zulkifli Hasan Ingin Bangun Sekolah di Masa Tua

Bayu Septianto, Jurnalis · Sabtu 20 Januari 2018 15:04 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 01 20 337 1847853 dari-kursi-bisnis-ke-mpr-zulkifli-hasan-ingin-bangun-sekolah-di-masa-tua-hZFL9xxU9F.jpg Ketua MPR Zulkifli Hasan (Dede Kurniawan/Okezone)

MENJADI pemimpin lembaga tinggi negara, bukanlah penghalang bagi Zulkifli Hasan untuk bisa berkomunikasi dengan keluarganya. Memanfaatkan ponsel pintar, Zulkifli selalu menyempatkan diri berbagi kabar dengan dua putra dan dua putrinya yang tidak lagi serumah.

Tak hanya jarak, aktivitas sebagai ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang teramat padat juga bukan penghalang bagi suami Soraya itu untuk dekat dengan keluarganya. Ayah dari Futri Zulya Savitri, Zita Anjani, M. Farras Nugraha, dan M. Rafi Haikal ini tak mau hubungan dengan keluarganya menjadi jauh.

"Alhamdulilah, saya dekat dengan anak-anak, seperti berkawan. Meski anak sekarang jauh, dengan yang New York, misalnya, saya bisa ngobrol melalui Skype. Lebih mudah dengan teknologi, sederhana saja. Tidak jadi halangan untuk saling menguatkan, saling mendukung," ungkap Zulkifli saat berbincang dengan Okezone di kediamannya, Widya Chandra, belum lama ini.

Dengan ramahnya, Zulkifli menceritakan putra-putrinya yang sudah bisa hidup mandiri. Putri pertamanya, Futri Zulya Savitri dipercaya sang ayah untuk meneruskan usaha yang telah dirintis ayahnya. Ya, sebelum bergelut dalam dunia politik, sang ayah memulai bisnis peralatatan rumah tangga (houseware) hingga sukses dan memiliki merek Haneda di bawah bendara PT Batin Eka Perkasa (BEP).

Puteri pertamanya inilah yang juga mendekatkan hubungan keluarga Zulkifli dengan pendiri Partai Amanat Nasional (PAN), Amien Rais. Pada 2011 silam, Futri dinikahi Ahmad Mumtaz Rais, putra ketiga Amien Rais.

 

Zulkifli Hasan menunjuk foto keluarganya (Dede Kurniawan/Okezone)

Bila puteri pertamanya itu bergelut di bisnis, lain halnya dengan puteri keduanya, Zita Anjani yang memiliki bakat di bidang pendidikan.

"Putri kedua saya berbeda, dia punya passion terhadap ibu dan anak, pendidikan. Tiap bulan ada saja kegiatan pendidikan yang ia gelar, memberi pelatihan-pelatihan kepada guru-guru PAUD; itu aktivitasnya sehari-hari. Dia buat TK, dia buat sekolah, dia buat SMA. Ya, sukanya pendidikan," cerita Zulkifli.

Di usia yang relatif masih muda, Zita Anjani, kata Zulkifli mendapatkan gelar Master of Science di University College London (UCL), serta memiliki gelar Diploma dari Sunshine Teachers Training (Diploma Montessori Education). Karena kecintaanya terhadap dunia pendidikan anak, akhirnya ia berkecimpung penuh di dunia pendidikan, salah satunya pada 2015 mendirikan sebuah sekolah anak usia dini bernama Kids Republic.

"Saya tanya, 'Kenapa kamu Zita (suka pendidikan.red)?' Yang nomor dua gitu. Dia bilang, 'Kasihan itu anak-anak. Kalau metode mengajarnya tepat, anak-anak ini bisa lebih pintar empat kali lipat.’ Begitu kata putri saya," tutur Zulkifli.

Sementara itu, putera ketiganya, M. Farras Nugraha merupakan lulusan universitas di Inggris. Sama seperti puteri pertamanya, Farras menggeluti dunia bisnis. September 2017 lalu, Farras baru saja menikahi seorang dokter cantik bernama Milka Anisya Norasiya dengan mahar 350 gram emas logam mulia.

Dan, puteranya yang terakhir M. Rafi Haikal memilih untuk belajar di dunia arsitek, lantaran hobinya yakni senang menggambar. Ada cerita unik dari putera terakhirnya ini yang berkuliah di New York, Amerika Serikat. Kata Zulkifli, si bungsu baru-baru ini mengirimkan tulisan tentang instropeksi dirinya yang hidup jauh dari orangtuanya. Dalam suratnya itu, puternya mengaku memahami arti hidup dan pilihannya mengambil jurusan arsitektur.

"Setelah saya kuliah di New York, saya masuk ke jurusan arsitektur, saya baru paham. Bahwa arsitektur itu adalah untuk memperbaiki hal-hal yang bobrok. Saya bersyukur punya Tanah Air Indonesia, negeri yang damai yang ramah terhadap perbedaan," kata Zulkifli mengutip tulisan si bungsu.

"Anak saya mengakui, sungguh beryukur saya punya negeri Indonesia yang indah, yang ramah terhadap berbagai agama, terhadap perbedaan, " imbuhnya.

Pelajaran tentang toleransi juga diambil dari cerita anaknya. Menurut Zulkifli, anaknya itu bersyukur berasal dari Indonesia, negara yang sangat memahami toleransi dalam beragama dan perbedaan lainnya.

"Jadi dia bersyukur Indonesia begitu toleran. Jadi kalau dibilang tidak toleran, tidak benar. Bahwa ada perbedaan-perbedaan, itu hal wajar," tuturnya.

Meski saat ini, Bang Zul, sapaan akrabnya itu tengah menggeluti dunia politik, ia meminta keempat buah hatinya itu untuk tidak langsung mengikuti jejaknya. "Saya bilang nanti dululah. Nanti menjelang 40 tahun, saya kira boleh. Jangan sekarang," kelakarnya.

Keluarga Memahami

Menjadi seorang pejabat negara, diakui Zulkifli sangat berat dirasakan keluarganya. Pria kelahiran Lampung, 17 Mei 1962 itu harus berusaha memberikan pengertian kepada keluarganya. Sang istri, Soraya, kata Zulkifli sempat kaget kala ia menjadi pejabat negara pertama kalinya sebagai Menteri Kehutanan. Kehidupannya sebagai istri seorang pengusaha harus beralih menjadi istri pejabat negara, yang harus bisa peka terhadap kondisi sosial masyarakat.

"Istri pengusaha biasanya bebas, ke luar negeri sudah sesuatu yang biasa. Ya biasalah namanya pengusaha ya, tentu dengan menjadi politisi terbatas ya, harus juga peka kan, harus juga empati kepada publik, kepada masyarakat. Lama-lama sekarang Alhamdulilah, semua sudah bisa menyesuaikan," ungkapnya.

Begitu pula terhadap anak-anaknya yang sempat khawatir saat sang ayah banting setir ke dunia politik. Kata Zulkifli, anak-anaknya sempat khawatir ayahnya tak bisa lagi membiayai sekolahnya lantaran berhenti menjadi pengusaha. Padahal sejak 1983 ayahnya sudah terjun menjadi pengusaha. Namun, kekhawatiran itu akhirnya hilang juga setelah dijelaskannya.

"Jadi anak-anak, Alhamdulilah bisa mengerti," katanya.

Ingin Mengabdi di Dunia Pendidikan

Sukses menjadi seorang pengusaha dan menjadi Ketua MPR, rupanya pria yang hobi berolahraga tenis itu bercita-cita terjun ke dunia pendidikan, seperti puteri keduanya. Keinginannya ini didasari nasihat sang ayah bahwa kekayaan yang dimilikinya saat ini tak akan dibawa saat mati meninggalkan dunia. Sang ayah menasihatinya untuk selalu memberikan kebaikan kepada mereka yang masih membutuhkannya.

"Ayah tuh bilang, 'Nak, yang kamu punya itu rumah bagus, mobil bagus. Berapa pun uang kamu itu, enggak akan kamu bawa. Itu semua kamu tinggal. Yang milikmu adalah apa yang kamu beri. Banyak-banyaklah memberi, banyak-banyaklah berbuat, banyak-banyaklah membantu, itu yang milikmu. Pada saatnya nanti, itu yang kamu bawa pulang. Yang segala macamnya itu kamu tinggal. Bahkan bisa menjadi fitnah kalau tidak hati-hati," tutur Zulkifli menirukan nasihat ayahnya.

Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) ini pun berniat untuk berkonsentrasi di dunia pendidikan begitu ia meninggalkan profesinya sebagai seorang politikus. Ia mengaku sangat tertarik di dunia pendidikan. Ia pun berharap bisa mengubah kesejahteraan masyarakat melalui bidang ini.

"Karena saya meyakini bisa mengubah masyarakat menjadi yang tertinggal menjadi lebih maju yang miskin menjadi lebih sejahtera, jalan cuma satu pendidikan," tuturnya.

Untuk mewujudkan cita-citanya itu, Zulkifli pun telah merencanakan untuk membangun sekolah agar bisa mencetak generasi bangsa yang bisa membanggakan Indonesia. Rupanya, cita-citanya ini sudah diwujudkan dengan menyantuni lebih kurang 300 anak untuk disekolahkan hingga perguruan tinggi.

"Kan membanggakan, mereka nanti bisa jadi Ketua MPR, bisa jadi Kapolri, bisa jadi macam-macam. Itulah kebanggaan saya," tutupnya.

1 / 3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini