nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Polisi Gandeng PPATK Telusuri Aliran Uang Travel 'Bodong' PT SBL

CDB Yudistira, Jurnalis · Kamis 01 Februari 2018 13:53 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 02 01 525 1853191 polisi-gandeng-ppatk-telusuri-aliran-uang-travel-bodong-pt-sbl-EvZogZM6KT.jpg Kapolda Jabar, Irjen Agung Budi (foto: Antara)

BANDUNG - Polda Jabar masih melakukan penyidikan mendalam terkait kasus dugaan penipuan dan penggelepan yang dilakukan agen travel haji dan umrah PT SBL.

Sejauh ini, penyidikan yang dilakukan diantaranya melakukan pemeriksaan terhadap saksi, korban dan juga pemeriksaan terhadap asset perusahaan tersebut.

"Kita tengah kerja sama dengan PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan) untuk menelusuri kemana uang perusahaan tersebut mengalir," ujar Kapolda Jabar, Irjen Agung Budi Maryoto, saat di temui di Mapolda Jabar, Kamis (1/2/2018).

Sementara untuk para korbannya, Agung mengatakan, telah membuka posko pengaduan untuk melakukan pendataan serta penanganan kelanjutan para korban.

 (Baca juga: Polda Jabar Terima Ribuan Pengaduan Calon Jamaah Umrah Korban Penipuan PT SBL)

Penyitaan sendiri, dilakukan atas dugaan kasus penipuan dan penggelepan yang di lakukan PT SLB, terkait perjalanan umrah dan haji plus.

Dalam kasus ini sendiri, polisi pun telah mentapkan dua tersangka, diantaranya H. Aom Juang Wibowo sebagai owner PT SBL dan Ery Ramdani sebagai seorang staf di PT SBL.

 (Baca juga: Polisi Segel Kantor Agen Travel Haji dan Umrah PT SLB Terkait Penggelapan)

Hasil penyelidikan sementara pihak kepolisian, ada setidaknya 31 ribu lebih masyarakat yang telah mendaftarkan diri melalui PT SBL tersebut. Para korban diantaranya telah menyetor pembayaran untuk perjalanan Umrah dan Haji, dengan kisaran Rp18 juta sampai dengan Rp23 juta, dan jumlah total mencapai Rp900 miliar.

Dari total itu, PT SBL ini, tercatat baru memberangkatkan 17.383 ribu, namun sisanya sebanyak 12.854 ribu tidak di berangkatkan sampai dengan waktu yang di tentukan. Akibatnya jumlah total kerugian mencapai Rp300 miliar yang baru diketahui, dipakai untuk kepentingan pribadi.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini