Image

UNESCO Tetapkan Perahu Pinisi Suku Bugis sebagai Warisan Budaya Dunia

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Selasa 13 Februari 2018 18:04 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 02 13 18 1858983 menlu-retno-terima-sertifikat-unesco-untuk-perahu-pinisi-esBS5DjJgN.jpeg Menlu RI, Retno Marsudi, menerima sertifikat UNESCO untuk Perahu Pinisi dari Duta Besar Hotmangaradja Pandjaitan (Foto: Istimewa)

JAKARTA – Seni pembuatan Perahu Pinisi yang menjadi kebanggaan suku Bugis, secara resmi ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda Dunia pada 7 Desember 2017 di Korea Selatan. Penetapan tersebut dilakukan oleh UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization), badan PBB yang menangani kerja sama dunia bidang pendidikan, keilmuan, dan kebudayaan.

“Ditetapkannya ‘Pinisi: Seni Pembuatan Perahu di Sulawesi Selatan’ sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia adalah kebanggaan besar bagi rakyat Indonesia,” ujar Menteri Luar Negeri (Menlu) RI, Retno LP Marsudi, dalam keterangan pers yang diterima Okezone, Selasa (13/2/2018).

Penyerahan sertifikat itu dilakukan di Gedung Kementerian Luar Negeri oleh Duta Besar RI untuk Prancis sekaligus Delegasi Tetap untuk UNESCO, Hotmangaradja Pandjaitan. Meski demikian, Menlu Retno mengingatkan bahwa penetapan UNESCO bukan tujuan akhir, melainkan hanya sarana untuk mendukung pelestarian budaya nasional.

“Setiap penetapan yang diberikan UNESCO kepada budaya atau kekayaan alam Indonesia perlu diikuti dengan kebijakan pelestarian yang baik, termasuk penyuluhan kepada masyarakat,” ujar Menlu Retno.

Mantan Duta Besar Indonesia untuk Belanda itu menegaskan, Kementerian Luar Negeri siap untuk terus bekerja sama dengan pemangku kepentingan terkait dalam melestarikan budaya dan kekayaan alam nasional.

Dengan keberhasilan Pinisi ini, Indonesia telah memiliki sembilan Warisan Budaya Tak Benda UNESCO. Warisan Budaya Tak Benda lainnya adalah Keris, Pertunjukan Wayang, Batik, Pelatihan Membatik, Angklung, Tari Saman, Noken Papua, dan Tari Bali.

Pada 2018, Indonesia menargetkan keberhasilan nominasi Pantun yang merupakan nominasi gabungan bersama Malaysia, sementara pada 2019, nominasi yang ditargetkan adalah Pencak Silat. Secara terpisah, Dubes Hotmangaradja Pandjaitan menegaskan kesiapan KBRI Paris untuk terus mengawal proses nominasi Pantun dan Pencak Silat.

“Pengakuan UNESCO terhadap kekayaan alam dan budaya Indonesia adalah dorongan bagi kita untuk selalu merawat alam dan budaya, sekaligus untuk menebalkan rasa cinta Tanah Air,” tegas Dubes Hotmangaradja Pandjaitan. (war)

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini