nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Rayakan Perlawanan terhadap Jepang, Presiden Korsel Singgung Wanita Penghibur

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Kamis 01 Maret 2018 13:10 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 03 01 18 1866397 rayakan-perlawanan-terhadap-jepang-presiden-korsel-singgung-wanita-penghibur-tkrEbV2yu7.JPG Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in, berparade di Seoul untuk memperingati gerakan perlawanan pertama terhadap Jepang (Foto: Reuters)

SEOUL – Korea Selatan (Korsel) memperingati 99 tahun gerakan perlawanan pertama terhadap penjajahan Jepang dengan menggelar parade di Ibu Kota Seoul. Presiden Moon Jae-in sempat menyinggung isu wanita penghibur dalam pidato pembukaan.

“Untuk menyelesaikan isu wanita penghibur, pemerintah Jepang, si pelaku, tidak seharusnya mengatakan bahwa urusan sudah selesai,” ujar Moon Jae-in, sebagaimana dilansir Reuters, Kamis (1/3/2018).

“Isu terhadap kejahatan kemanusiaan yang dilakukan pada saat perang tidak bisa ditutup hanya dengan kata-kata. Penyelesaian sejati dari sejarah tersebut adalah dengan mengingatnya dan mengambil pelajaran,” imbuh pria berusia 65 tahun itu.

BACA JUGA: Isu Wanita Penghibur Kembali Bikin Korsel-Jepang Tegang

Pidato tersebut diucapkan Presiden Moon Jae-in di depan sebuah penjara yang pernah digunakan oleh penjajah Jepang untuk menghukum para pejuang kemerdekaan Korea. Pria kelahiran Geoje itu mengatakan, Seoul tidak seharusnya mengemis perlakukan khusus dari Tokyo.

“Saya berharap Jepang dapat benar-benar berdamai dengan tetangganya yang menyebabkan penderitaan dan akan menempuh jalan hidup berdampingan secara damai demi mencapai kemakmuran bersama,” ucap Moon Jae-in.

BACA JUGA: VIDEO: Bukti Perbudakan Seks Jepang terhadap Perempuan Korea 

Pernyataan Presiden Moon Jae-in itu lantas dikecam oleh Jepang. Kepala Kabinet Yoshihide Suga mengatakan, komentar tersebut sangat disesalkan. Ia mendesak agar Korea Selatan dan Jepang seharusnya fokus pada kerjasama untuk menangkal ancaman yang ditimbulkan Korea Utara.

Jepang diketahui menjajah Semenanjung Korea pada 1910-1945. Selama kolonisasi itu, ratusan ribu perempuan, sebagian besar berasal dari Korea, dipaksa bekerja sebagai penghibur di kamp-kamp militer Jepang. Isu wanita penghibur tersebut merupakan salah satu pengganjal dalam hubungan Negeri Sakura dengan Negeri Ginseng.

BACA JUGA: Penyelesaian Kasus Budak Seks Jepang-Korsel Tersandung Patung

Pemerintah Jepang secara resmi meminta maaf dan berjanji menyediakan kompensasi senilai 1 miliar yen (setara Rp129 miliar) bagi para wanita penghibur itu pada 2015. Namun, kesepakatan itu terjalin di bawah pemerintahan Presiden Park Geun-hye. Pemerintah Korea Selatan di bawah Moon Jae-in menganggap kesepakatan itu tidak cukup.

(war)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini