nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Isu Wanita Penghibur Kembali Bikin Korsel-Jepang Tegang

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Selasa 09 Januari 2018 18:02 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 01 09 18 1842425 isu-wanita-penghibur-kembali-bikin-korsel-jepang-tegang-OjXuB6W8wf.jpg Salah satu bukti video wanita Korea yang dijadikan budak seks oleh militer Jepang (Foto: BBC)

SEOUL – Isu wanita penghibur atau budak seks antara Korea Selatan (Korsel) dengan Jepang kembali memanas. Sebab, Menteri Luar Negeri Korea Selatan, Kang Kyung-wha, menyatakan tidak akan melakukan negosiasi ulang terkait kesepakatan mengenai wanita penghibur yang dicapai pada 2015.

BACA JUGA: VIDEO: Bukti Perbudakan Seks Jepang terhadap Perempuan Korea

Perempuan berkacamata itu mengatakan, tidak bisa dibantah pada pemerintah kedua negara secara formal sudah mencapai kesepakatan tersebut. Sesuai kesepakatan, Jepang diwajibkan meminta maaf dan membayar uang senilai 1 miliar yen (setara Rp119 miliar) sebagai ganti rugi kepada para korban.

“Kesepakatan 2015, yang gagal merefleksikan opini para korban, tidak bisa menjadi solusi nyata terhadap isu wanita penghibur,” ujar Kang Kyung-wha dalam konferensi pers di Seoul, sebagaimana dilansir Reuters, Selasa (9/1/2018).

“Pemerintah kami tidak akan meminta negosiasi ulang, tetapi berharap Jepang akan menerima fakta sebagaimana mestinya, berdasarkan standar internasional, dan melanjutkan upaya membantu para korban meraih kembali kehormatan serta harga diri dan menyembuhkan luka di hati mereka,” tutupnya.

BACA JUGA: Peneliti Korsel Rilis Bukti Pertama Video Budak Seks Jepang 

Perempuan berusia 62 tahun itu menambahkan, Negeri Ginseng akan menyisihkan sendiri anggaran untuk mendanai para korban wanita penghibur dan berkonsultasi dengan Jepang mengenai apa yang harus dilakukan terhadap uang senilai 1 miliar yen yang sudah diberikan oleh Tokyo.

Mendengar pernyataan tersebut, Jepang menolak imbauan Korea Selatan untuk melakukan upaya lebih bagi korban wanita penghibur. Menteri Luar Negeri Jepang, Taro Kono menuturkan, kesepakatan yang tercapai pada 2015 sudah final dan tidak dapat diubah.

“Kami tidak bisa menerima permintaan Korea Selatan untuk upaya tambahan. Di masa ketika kita menghadapi ancaman dari Korea Utara, kesepakatan antara Korsel-Jepang adalah basis yang sangat diperlukan untuk kerjasama di berbagai bidang dan penciptaan hubungan yang berorientasi pada masa depan,” tukas Taro Kono dalam konferensi pers terpisah di Tokyo.

BACA JUGA: PM Jepang Minta Patung Jugun Ianfu di Korsel Dihilangkan 

Pasang surut hubungan antara Korea Selatan dan Jepang diwarnai oleh isu wanita penghibur. Sebab, selama masa penjajahan Jepang di era Perang Dunia II, ratusan ribu perempuan Korea dipaksa bekerja di rumah-rumah bordil milik militer Jepang untuk memuaskan nafsu para tentaranya.

BACA JUGA: Jepang Protes Upaya Pendaftaran Dokumen Budak Seks ke PBB

Kesepakatan pada 2015 itu tercapai pada masa pemerintahan Presiden Park Geun-hye. Pemerintahan Korsel di bawah Presiden Moon Jae-in menilai kesepakatan tersebut gagal memenuhi apa yang dibutuhkan oleh para wanita penghibur atau para jugun ianfu.

(war)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini