nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Perempuan Korsel Korban Budak Seks Militer Jepang Meninggal Dunia

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Selasa 19 Desember 2017 18:03 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 12 19 18 1832871 perempuan-korsel-korban-budak-seks-militer-jepang-meninggal-dunia-7eWDVZiYOm.jpg Patung yang melambangkan budak seks militer Jepang di San Fransisco, Amerika Serikat (Foto: BBC)

TOKYO – Seorang perempuan asal Korea Selatan yang pernah menjadi korban budak seks Jepang, meninggal dunia. Perempuan bernama Song Shin-do itu wafat pada usia 95 tahun di sebuah wilayah di Jepang.

Song adalah satu dari 32 orang penyintas yang masuk dalam daftar korban budak seks milik pemerintah Korea Selatan (Korsel). Ia adalah satu dari ribuan perempuan yang dipaksa bekerja sebagai pemuas nafsu para anggota tentara Jepang di kamp-kamp militer semasa Perang Dunia II.

Melansir dari Reuters, Selasa (19/12/2017), Song Shin-do lahir di Korea. Menurut Dewan Pembela Wanita Korban Budak Seks Militer Jepang, ia mengaku dipaksa menjadi budak seks oleh militer Jepang selama tujuh tahun di China.

Setelah Perang Dunia II berakhir, Song pindah ke Jepang bersama seorang tentara yang kemudian meninggalkannya. Setelah ditinggal oleh tentara itu, Song Shin-dp hidup bersama seorang warga keturunan Korea di Jepang hingga wafat.

(Song Shin-do adalah salah satu dari 32 orang penyintas yang masuk daftar korban budak seks Jepang milik pemerintah Korsel. Foto: Toshiyuki Aizawa/Reuters)

Shin-do pernah mengajukan gugatan pada 1993 kepada Pengadilan Distrik Tokyo. Ia ingin agar pemerintah Jepang secara resmi meminta maaf serta memberikan ganti rugi atas penderitaan yang dialami.

Kasus tersebut sempat diproses hingga tahap Mahkamah Agung Jepang. Sayangnya, gugatan Song itu dibatalkan ketika sudah masuk tahap pengadilan tertinggi pada 2003. Mahkamah Agung beralasan, Jepang tidak punya kewajiban hukum untuk membayar kompensasi karena peraturan perpajakan 20 tahun milik Song telah berakhir.

BACA JUGA: Jepang Protes Upaya Pendaftaran Dokumen Budak Seks ke PBB

Bagi Jepang, kompensasi untuk korban budak seks sudah diselesaikan lewat perjanjian 1965 dengan Korea Selatan. Sebagai tambahan, Ketua Kabinet Jepang saat itu, Yohei Kono, sudah menyampaikan permohonan maaf lewat pernyataan resmi pada 1993 atas keterlibatan otoritas Negeri Sakura.

Dua tahun kemudian, Jepang membentuk simpanan untuk melakukan pembayaran kepada perempuan korban budak seks melalui sumbangan. Tokyo juga menganggarkan dana untuk dukungan kesejahteraan serta mengirim surat permintaan maaf resmi kepada para keturunan korban budak seks.

Sebagaimana diketahui, Jepang melakukan kolonisasi di Semenanjung Korea pada 1910-1945. Warisan sejarah Perang Dunia II berupa wanita penghibur itu masih menjadi isu sensitif dalam hubungan diplomatik antara Korea Selatan dengan Jepang.

BACA JUGA: PM Jepang Minta Patung Jugun Ianfu di Korsel Dihilangkan

Perdana Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe dan mantan Presiden Korsel, Park Geun-hye, pernah mencapai kesepakatan pada 2015 terkait isu wanita penghibur. Negeri Matahari Terbit berjanji membayar ganti rugi senilai 1 milyar yen (setara Rp120 miliar) serta meminta maaf kembali.

Kedua negara saat itu sepakat isu wanita penghibur akan selesai jika sama-sama menyelesaikan kewajibannya. Namun, Presiden Korsel saat ini, Moon Jae-in, menolak kesepakatan tersebut.

(war)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini