Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Produksi Garam Tradisional, Azhar Mampu Sekolahkan Anak hingga Sarjana

Khalis Surry , Jurnalis-Senin, 26 Maret 2018 |02:01 WIB
Produksi Garam Tradisional, Azhar Mampu Sekolahkan Anak hingga Sarjana
Azhar petani garam tradisional di Aceh. (Foto: Khalis Surry/Okezone)
A
A
A

HARI itu, cuaca begitu terik. Matahari tengah memuncak. Seorang pria yang mengenakan baju lengan panjang kombinasi warna putih dan biru sedang menapak menuju ke tengah padang. Keringat bercucuran membasahi seluruh wajah dan bajunya. Sesekali, kilauan terpacar dari wajahnya saat ia menghadap ke arah matahari.

Pria itu bernama Azhar. Umurnya telah menginjak 51 tahun. Bapak dari tiga anak itu berprofesi sebagai petani garam tradisional yang beralamat di Desa Lamujong, Kecamatan Baitussalam, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Ia bersama enam rekannya memiliki sembilan bedeng tempat produksi garam tradisional, dengan cara dijemur di bawah terik matahari. Saat cuaca terik, surga bagi mereka petani garam. Tak akan asin garam mereka ketika hujan turun.

Menjadi petani garam telah digeluti Azhar sejak 20 tahun silam. Menghidupi kebutuhan keluarga, Azhar betumpu pada hasil garam yang dirinya produksi. Sebelum kelompoknya mendapatkan bantuan dari sembilan bedeng produksi garam itu dari pemerintah, Azhar telah lebih dulu mememiliki sebuah gubuk yang di dalamnya terdapat wajan terbuat dari besi untuk merebus garam. Hingga kini, gubuk itu masih berdiri kukuh, seumur dengan dirinya terjun menjadi petani garam. Meski demikian, satu, dua, kayu yang menempal di dinding gubuk itu telah melapuk.

"Ini (tempat produksi garam dengan cara direbus) milik saya pribadi. Kalau yang produksi garam dengan cara dijemur itu miliki kelompok, saya ketuanya," kata Azhar saat ditemui Okezone, beberapa waktu lalu.

Kini ada dua cara Azhar memproduksi garam; pertama, dengan merebus, yang merupakan asetnya sendiri; dan kedua, dengan cara menjemur di bawah lengkungan bedeng, berkongsi dengan enam rekan petani garam lainnya.

Bahan baku dari pembuatan garam tersebut merupakan pasir yang telah dijemur di bawah terik matahari. Kemudian, Azhar mengangkut pasir itu dan memasukkan ke wajan besar untuk direbus.

Proses perebusan pun membutuhkan waktu selama tiga hingga empat jam hingga pasir yang bercampur air itu menjadi garam. Lalu, Azhar harus mengontrol api agar tetap membakar wajan tersebut. Setiap hari Azahr dapat memproduksi garam tanpa kecuali.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement