Sedangkan produksi garam kedua dilakukan dengan cara pasir bercambur air itu dijemur di bawah bedeng yang telah tertutupi kertas plastik bening. Sistem jemur, membutuhkan waktu sekira 15 hari lebih baru dapat memetik hasil panennya.
Dalam sebulan, perkiraan Azhar, mereka bisa panen garam dari sembilan bedeng sebanyak dua kali. Jika hasil satu bedeng hasilnya mencapai 1 ton, maka dua kali panen dalam sebulan mencapai 18 ton garam yang dihasilkan. Namun dengan cara seperti ini, garam bisa diproduksi ketika cuaca terik, jika hujan mereka libur.
"Sehari bisa dua kali masak (garam), hasilnya mencapai 60 kilogram. Kalau yang dijemur itu satu bedeng (hasil produksinya) antara 700 kg hingga 1 ton garam," ungkap Azhar.
Sekarang Azhar menjual garam tradisional hasil produksinya itu dengan harga antara Rp7 ribu hingga Rp8 ribu per kg. Ia berkisah, sejak 20 tahun yang lalu harga garam dapat dibandrol dengan harga hanya Rp3 ribu per kg. Maka itu, menurutnya, mungkin itu salah satu dari sekian banyak penyebab atas banyaknya petani garam yang banting stir dan beralih mencari pekerjaan lain.
"Mungkin mereka yang sudah meninggalkan pekerjaan ini lantaran faktor capek. Apa lagi kalau anak muda, mana mau mereka kerja di bawah terik matahari nanti pasti hitam. Tapi kalau harga rendah mungkin tidak sesuai dengan pekerjaan, tapi kalau harga sekarang hingga Rp8 ribu jadi kita senang," ujarnya.