HARI menjelang malam. Tiga pelajar sekolah menengah atas (SMA) kembali ke rumah usai bermain bola voli. Suara pembangkit listrik tenaga diesel, akrab disebut ginset mulai memadati indera pendengaran, dong.. dong.. dong... Satu per satu rumah warga mulai diterangi lampu. Suara azan pun mulai berkumandang lantang dari pengeras suara masjid.
Namun, sebagian rumah warga masih terlihat gelap karena tak memiliki ginset di rumah. Rumah mereka hanya diterangi seadanya lampu teplok. Begitu lah kondisi senja ketika Okezone, berkunjung ke Desa Tampor Paloh, Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh, penghujung Maret lalu.
‘’Ya kalau malam kayak gini lah, yang ada diesel hidup (lampu), kalau enggak ada ya pakai telpok, kayak zaman (penjajahan) Belanda kita,’’ kata Hasbi (53), saat berada di teras rumahnya, Desa Tampor Paloh, Jumat (31/3) malam.
Jarum jam pun menunjukkan pukul 20.00 WIB. Tak jauh dari rumah Hasbi, suara bocah-bocah mengejakan huruf hijaiyah dalam Iqra, bercampur dengan anak-anak yang membacakan ayat Alquran. Cahaya lampu teplok mengintip dari celah dinding kayu tempat mengaji anak-anak di Tampor Paloh.
(Foto: Khalis/Okezone)
‘’Saya sudah lima tahun lebih mengajar ngaji ini, iya pakai lampu teplok karena belum ada lampu (dari ginset) kan. Kita enggak sanggup sediakan minyak diesel Pak. Lampu teplok ini saya beli, ada juga yang dibawa anak murid saja, jadi dua murid bawa satu lampu teplok,’’ kata Said Husin (40) guru mengaji di Tampor Paloh.
Listrik Kedondong Sebatas Mimpi
Tiga tahun silam, Desa Tampo Paloh sempat heboh. Doa warga agar desanya dialiri listrik nyaris terkabulkan, setelah bocah 15 tahun bernama Naufal Raziq menemukan energi listrik pada batang kedondong, yang dapat mengaliri arus listrik ke rumah-rumah warga.
Penemuan siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Langsa, seketika heboh, informasinya pun sampai ke telinga para petinggi PT Pertamina EP Rantau Field. Mereka kemudian bersedia menjadi donator atas penemuan Naufal.
Pada Juli 2016, pihak Pertamina langsung menyambangi Tampor Paloh. Mereka langsung menawarkan kepada warga setempat agar desa itu dipasangkan listrik dari pohon kedondong. Tentu, sewaktu itu kabar tersebut disambut baik semua masyarakat. Mereka senang dan bahagia. Dalam hati, warga berpikir tak lama lagi desa mereka akan diterangi lampu, dari arus listrik pohon kedondong.
(Kondisi rumah warga di Tampor Paloh. Foto: Khalis/Okezone)
Mendapat penerimaan dari warga, pihak Pertamina EP pun tidak menunggu lama. Mereka langsung memasok pohon kedondong ke desa tersebut, hingga akhirnya pohon kendondong itu sudah tertancap di belakang rumah warga lengkap dengan instalasi listrik yang sudah terpasang. Waktu itu dikabarkan, sebanyak 60 rumah warga di Desa Tampor Paloh sudah diterangi listrik kedondong. Keberhasilan inovasi itu pun kemudian diberitakan oleh sejumlah media.
Namun, kondisi saat ini berbeda dengan suara dalam berita di media massa waktu itu. Masyarakat Tampor Paloh tak diterangi lampu dari arus listrik kedondong. Mereka masih sengsara dalam gelap gulita di tengah malam, ketika mesin ginset penyalur arus listrik mereka mati, tepat pukul 24.00 WIB.
“Masyarakat sempat menikmati lampu (listrik kedondong) selama dua jam waktu itu, sementara di sekolah sampai satu minggu. Kalau di rumah saya cuma dua jam, setelah itu tidak hidup sama sekali,” kata Hasbi.