Kala itu, cerita Hasbi, Pertamina EP memasangkan instalasi listrik kedondong pada 30 rumah warga. Di setiap rumah yang terpasang instalasi listrik itu ditanami sebanyak enam batang kedondong di belakang rumah, dengan kabel yang sudah terhubung pada instalasi di dalam rumah.
Setelah instalasi di setiap rumah semua terpasang, acara peluncurannya pun tiba. Kata Hasbi, ketika itulah enegri listrik dari pohon kedondong mengalir dan menghasilkan cahaya lampu, menerangi rumah warga. Akan tetapi, setelah acara kunjungan selesai, pihak Pertamina pun kembali ke kota, listrik pun ikut padam, dan akan hidup lagi ketika pihak Pertamina melakukan kunjungan lagi ke Tampor Paloh.
''Ya itu saya katakan hidup (lampu) nya bermusiman, begitu datang kunjungan, hidup. Begitu pulang, mati,’’ ujar Hasbi.
Mendapati kejanggalan pada energi listrik itu, Hasbi merasa curiga. Timbul pertanyaan dalam dirinya, kenapa listrik kedondong itu akan hidup ketika acara kunjungan saja, sedangkan ketika acara kunjungan selesai maka lampu itu pun ikut kembali padam.
Dihantui perasaan penasaran, Hasbi pun mencoba mencari tahu dengan cara mengotak-atik instalasi yang menempel pada batang kedondong, yang menjadi sumber arus listrik kendondong. Setelah diperiksa, kata Hasbi, dirinya menemukan sejumlah baterai pada instalasi yang melekat pada batang kedondong. Baterai itu berfungsi untuk menghidupkan lampu, dan kedondong itu pun hanya sebagai ‘’kemasan’’.
‘’Rupanya saya periksa-periksa ada baterai di dalamnya. Baterai untuk ngecas-negcas itu, makanya hidup,’’ ungkap Hasbi, sembari memperlihatkan ‘’bangkai’’ kedondong di belakang rumahnya, sore itu.
Energi listrik dari pohon kendondong pagar itu tak pernah dinikmati warga Tampor Paloh. Atas kejadian itu, masyarakat merasa dibohongi. Kata Hasbi, warga sempat merasa kecewa. Mimpi mereka desa akan terang melalui listrik kedondong lenyap.