“Pohon kedondongnya masih ada di belakang rumah, tapi energinya yang enggak ada. Kampung kami jadi tempat percobaan, saya pernah tanya kepada pihak Pertamina apakah ini akan berdampak kepada masyarakat dalam jangka waktu panjang. Mereka katakan bisa, ternyata separuh perjalanan, kami tolak karena tidak bisa,” jelas Hasbi.
Tidak ada listrik kedondong. Namun ginset dan lampu teploklah yang menjadi penolong gelap warga Tampor Paloh saat ini. Sejak desa di Simpang Jernih itu berdiri pada tahun 1919, masayarakat belum merasakan teraliri arus listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) pada rumah-rumah. Mereka berharap, pemerinta segera mengambil sikap untuk melakukan pembangunan dari semua sektor di daerah tersebut, mulai dari arus listrik, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, transportasi hingga jaringan komunikasi.
Bagi warga yang rumahnya teraliri listrik dari ginset, kata Hasbi, harus menyediakan uang setiap bulannya untuk membeli bahan bakar sebesar Rp90 ribu. Sedangkan warga yang memiliki televisi lebih besar, yakni Rp150 ribu per bulan.
Desa Tampur Paloh memiliki delapan ginset milik warga. Setiap ginset dapat menampung hingga 10 rumah. Dan desa itu memiliki jumlah penduduk di sana sebanyak 400 jiwa dalam 112 kepala keluarga. Dan ginset itu akan hidup mulai pukul 18.00 WIB hingga pukul 24.00 WIB.
“Setelah jam dua belas, sampai pagi itu gelap gulita tidak ada lampu. Yang jelas kami belum merdeka. Kami belum memiliki lampu penerangan, jaringan komunikasi tidak ada, transportasi masih boat, itu tandanya belum merdeka. Walaupun negara kita sudah merdeka tapi kami belum menikmatinya,’’ keluh Hasbi.
(Qur'anul Hidayat)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.