Tidak hanya mengenai patahan pipa, jenis minyak yang terbakar dan juga mencemari lingkungan hingga ke muara sungai Kariangau di kota Balikpapan dan sungai Nenang di kabupaten Penajam Paser Utara juga terungkap. Hasilnya bukan MFO melainkan minyak mentah.
"Jenisnya crude oil atau minyak mentah, tapi saya tidak pegang data mengenai jumlah minyak mentah yang tercecer dari pipa kami yang patah," kata Togar MP, GM Pertamina RU V saat dipanggil Polda Kaltim.
Keputusan bahwa itu adalah minyak mentah setelah pengujian sampel yang ke 10. "Sampel 1 sampai 9 mendekati MFO dan baru kepada sampel ke 10 kami bisa pastikan adalah minyak mentah," ungkapnya.
Insiden ini juga menurunkan produksi dari unit primer sebesar 60 persen karena minyak disuplai dari pipa ke tangki pengolahan. Sehingga Pertamina memaksimalkan pengolahan dari unit sekudner atau dari kapal tanker ke tangki.
"Kami harus maksimalkan unit sekunder karena pengolahan minyak di RU V ini untuk menyuplai kawasan tengah dan timur Indonesia," pungkas Togar.
Kini, 6 Maret 2018, pantai dan teluk Balikpapan telah mulai bersih dari minyak. Namun itu tidak lantas menghentikan proses hukum karena tetap ada pihak yang harus bertanggung jawab.
(Khafid Mardiyansyah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.