Ia menjelaskan, untuk jaringan Arab Saudi itu, korban dijanjikan menjadi Asisten Rumah Tangga. Di mana korban diberangkatkan ke Riyadh menggunakan visa cleaning service. Namun korban malah dipindahkan ke Jeddah, bekerja sebagai pembantu rumah tangga.
"Setelah mendapatkan bekerja di Jeddah itu, korban mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi dan mendapatkan pelecehan seksual dari majikannya," tuturnya.
Selain itu, lanjut dia, untuk jaringan Sudan melibatkan Warga Negara asal Suriah Mohammad Al Ibrahim yang berdomisili di Indonesia. Ibrahim menguruskan visa dan tiket keberangkatan korban bernama Aisyah.
"Korban dikirim ke Dubai, namun sampai disana korban kembali diberangkatkan oleh agensi di negara tersebut ke Suriah.
Sekitar Januari 2018 korban dari Suriah diberangkatkan ke Sudan dengan alasan orangtua yang majikan di Suriah berada di Sudan," jelasnya.