Doktor Filsafat Adik Pramoedya Ananta Toer yang Jadi Pemulung Bantah Jiplak Disertasi

Taufik Budi, Jurnalis · Rabu 30 Mei 2018 06:31 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 05 30 337 1904276 doktor-filsafat-adik-pramoedya-ananta-toer-yang-jadi-pemulung-bantah-jiplak-disertasi-aBHFRCDx1s.jpg Soesilo Toer (Taufik/Okezone)

BLORA - Soesilo Toer, doktor ilmu filsafat lulusan Plekhanov Institute Moskow, Rusia kini menjadi pemulung sampah yang tiap malam berkeliling Kota Blora, Jawa Tengah. Adik dari satrawan kondang, Pramoedya Ananta Toer itu menulis disertasi bertajuk "Republik Jalan Ketiga".

Namun, karya untuk memperoleh gelar doktor itu sempat dinilai menjiplak buku milik sosiolog Inggris bernama Anthony Giddens dengan judul "The Third Way". Soes menjelaskan, disertasinya disusun pada 1967 sementara buku sosiolog kenamaan Inggris itu baru ditulis pada 1980.

"Dikira menjiplak (disertasi) karena ada sosiolog dari Inggris menulis The Third Way. Saya sempat gelagapan, kok aneh ada tuduhan itu. Saya punya buku The Third Way, dia nulis tahun 1980, saya nulis tahun 1967. Duluan saya 13 tahun, kok saya jiplak, bagaimana?" kata Soesilo, saat berbincang dengan Okezone, kemarin.

 

Meski demikian, pria yang akrab disapa Soes itu mengaku tak merasa terhina dengan tudingan tersebut. "Saya malah bangga. Kenapa? Anthony Giddens baru berpikir tentang The Third Way, sudah bisa saya jiplak dari otaknya, hebat kan! Anthony Giddens baru berpikir, sudah bisa saya tulis 13 tahun sebelumnya," kata Soes berapi-api.

Bahkan, untuk membantah tudingan itu Soes menulis disertasinya itu dalam sebuah buku yang diterbitkan Pataba Press. Pataba merupakan kependekan dari Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa yang juga digunakan sebagai nama perpusatakaan di kediamannya Jalan Sumbawa 40 Jetis Blora.

Dalam sebuah resensi disebutkan, dua karya itu mengambil tema besar fakta sejarah yang identik, yakni dari perkembangan dua ideologi pasca-lahirnya revolusi industri di Inggris dan revolusi nasionalisme di Perancis.

Giddens hanya melakukan identifikasi, lalu menguraikan kelebihan dan kekurangan sebuah negara yang menganut ideologi tertentu, dari sudut pandang sosial dan politik, tanpa menawarkan apa yang yang ia tulis sebagai judul bukunya. Giddens seolah membiarkan pembaca untuk menarik deduksi masing-masing.

(Baca juga: Kisah Doktor Filsafat Adik Pramoedya Ananta Toer Jadi Pemulung)

Sedangkan Soesilo Toer, merujuk pada salah satu kalimat dalam bab pembuka buku ini, sudah selangkah lebih maju ketimbang Giddens dengan menawarkan solusi. Soesilo Toer menuangkan idenya tentang bagaimana seharusnya sebuah negara ditata dengan kearifan lokal sebagai pondasi utamanya.

Terlepas dari apakah negara tersebut menganut sosialisme atau kapitalisme, komunisme atau imperialisme, hal mendasar yang perlu digali untuk menciptakan negara dan bangsa yang menyejahterakan rakyatnya adalah keunikan atau kekhasan identitas negara dan bangsa tersebut.

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini