nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

8 Fakta Dibalik Siswi Bunuh Diri di Blitar, Nomor 4 Bikin Geleng-Geleng

Avirista Midaada, Jurnalis · Kamis 31 Mei 2018 09:04 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 05 31 519 1904787 8-fakta-dibalik-siswi-bunuh-diri-di-blitar-nomor-4-bikin-geleng-geleng-lovi6Sl318.jpg Ilustrasi

4. Menulis 4 Surat Wasiat Sebelum Bunuh Diri

Sebagaimana olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) oleh kepolisian, diperoleh ada 4 surat wasiat yang ditulis EPA sebelum mengakhiri hidupnya.

Satu surat berisikan biodata korban. Korban sempat meminta maaf ke keluarga di surat itu. Tak hanya itu siswi yang ngekos selama duduk di bangku SMP ini juga menuliskan rasa terima kasihnya kepada pihak keluarga.

Surat kedua, EPA menitipkan pesan ke ibu korban supaya segera mengkremasi jasadnya saat meninggal. Korban juga meminta pihak keluarga tidak memasang bendera putih di depan rumah sebagai tanda ada yang meninggal dunia. Ia juga meminta ibunya tak membuka praktek hingga lebaran.

EPA juga meminta maaf kepada keluarga pemilik kos karena menggunakan tempat tersebut untuk melakukan bunuh diri. Surat ketiga, korban mengucapkan terima kasih dan minta maaf kepada Mariani atau yang ia panggil Maklek, yang tak lain adalah pengasuhnya selama tinggal di kosan tersebut.

Surat terakhir EPA meminta kepada Maklek untuk tidak memanggil orang di sekitar lokasi kejadian dan segera menghubungi nomor telepon RSUD Mardi Waluyo Blitar. Tak hanya itu, EPA juga turut mencatumkan nomor telepon RSUD Mardi Waluyo dan menyelipkan kartu BPJS miliknya ke dalam amplop bersama surat keempat yang ia tulisnya. Kasatreskrim Polres Blitar Kota AKP Heri Sugiono mengakui bahwa surat itu ditemukan di kamar korban.

"Surat wasiat yang kita temukan sudah kami amankan. Sudah kita tanyakan ke keluarga bahwa itu memang tulisan korban,” ujarnya Heri melalui sambungan telepon Rabu (30/5/2018).

5. Pengakuan Sang Pengasuh Korban


Berdasarkan hasil interogasi kepolisian dari sang pengasuh EPA bernama Mariani, diperoleh pengakuan mengejutkan bahwa korban terlalu takut tidak bisa masuk salah satu SMA negeri favorit di Kota Blitar.

Hal ini karena sistem zonasi dalam pendaftaran siswa baru yang diberlakukan membuat siswa-siswi pendaftar dari luar kota tak bisa dengan mudah masuk.

EPA beralamatkan di Kelurahan Srengat, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, sesuai alamat sang orang tua. Alamat itulah notabene luar Kota Blitar.

Namun Mariani tak mengerti motif apa persisnya yang melatarbelakangi gadis yang sudah dianggap anaknya sendiri itu mengakhiri hidup dengan bunuh diri.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini