Simulasi Tarian Perang dilengkapi dengan aksi perwakilan Distrik Welesi. Menjadi tuan rumah, mereka menyajikan tiga sisi kehidupan dari masyarakat adat di sana. Cerita diawali kisah seorang gadis Welesi yang menanti jodohnya di Honai atau rumah adat Hubula. Hingga momen yang ditunggu datang. Sebab, ada pembukaan Honai baru dan di situ dipertemukan dengan pria dari keluarga lain.
Cerita pun berlanjut dengan seorang kepala adat yang memiliki dua orang istri. Namun, ketua adat ini lebih sayang terhadap istri mudanya hingga menimbulkan kecemburuan. Setelah berkisah dengan tata kehidupan masyarakat, adrenalin dinaikan. Dan, kisah konflik peperangan dimulai manakala ada anak gadis yang berangkat ke ladang diganggu oleh pria suku lain.
“Semuanya bagus di sini. Transportasi juga mudah. Saya juga tidak ada masalah dengan makanan. Pokoknya sangat nyaman berada di Lembah Baliem,” ujarnya lagi.
Menyempurnakan sajian, Distrik Welesi juga menutup pertunjukan dengan Tarian Etae atau Ebetay. Ini adalah tarian yang dibawakan dengan berlari secara melingkar. Lalu, kelompok lain berdiri di tengah sambil berteriak.
Sensasi peperangan lalu dilanjutkan oleh Distrik Asso Tipo. Mereka ini menyajikan Tarian Perang dengan pemicu sengketa wilayah dua suku berbeda. Namun, semua diselesaikan damai.