Ia melanjutkan bahwa Gerindra juga berpotensial menjadi partai pertama yang menjadi runner-up di luar PDIP dan Golkar. Padahal dalam empat kali pemilu sejak era Reformasi, posisi kedua tak pernah diperoleh partai di luar PDIP dan Golkar.
"Sementara PDIP berhasil menjadi runner-up pada Pemilu 2004. Kini elektabilitas Gerindra sebesar 13,1 persen, di atas elektabilitas Partai Golkar, dan elektabilitasnya masih di bawah PDIP," terangnya.
Adjie menambahkan, Golkar terancam tidak masuk dua besar pemenang pemilu untuk pertama kalinya. Pasalnya saat ini elektabilitas partai berlambang pohon beringin itu hanya 11,3 persen dan berada di posisi ketiga survei dukungan partai.
"Posisi Partai Golkar saat ini akan menjadi yang terburuk dalam sejarah pemilu Golkar di era Reformasi. Dalam empat kali pemilu sebelumnya, Golkar selalu masuk dua besar pemenang," terangnya.
Adjie melanjutkan, posisi Golkar saat Pemilu 2019 masih di ambang batas, naik ke partai utama jika perolehan suara di atas 15 persen. Namun apabila tidak ada perubahan besar atau gebrakan luar biasa yang dilakukan partai beringin, maka pemilu mendatang bakal menjadi "kuburan" bagi Golkar sebagai partai besar.