nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ada 2 Sumber Gempa Bumi, Bengkulu Masuk Daerah Rawan Gempa

Demon Fajri, Jurnalis · Kamis 04 Oktober 2018 02:07 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 10 04 340 1959393 ada-2-sumber-gempa-bumi-bengkulu-masuk-daerah-rawan-gempa-MloR3fydIP.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

BENGKULU - Indonesia kembali berduka, gempa berkekuatan 7,4 skala richter (SR) mengguncang Sulawesi Tengah (Sulteng), pada Jumat 28 September 2018, sekira pukul 17.02 WIB. Gempa yang terletak pada koordinat 0.18 lintang selatan (LS) dan 119.85 bujur timur (BT), berjarak 26 kilometer (KM) Utara, Donggala, dengan kedalaman 10 km tersebut diiringi dengan gelombang tsunami.

Dari data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Selasa 2 Oktober 2018, pukul 13.01 WIB, dalam bencana alam tersebut mengakibatkan korban jiwa, 1.234 orang meninggal dunia, 799 orang mengalami luka berat, 99 orang dinyatakan hilang, korban tertimbun 152 orang. Bahkan, saat ini jumlah pengungsi sudah mencapai 61.867 jiwa yang tersebar di 109 titik dan rumah rusak 65.733 unit.

Sebelumnya, gempa berkekuatan 7,0 SR mengguncang Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Minggu 5 Agustus 2018, sekira pukul 18.46 WIB. Berdasarkan data dari Posko PDB Provinsi NTB yang diterima BNPB, pada 1 Oktober 2018, saat ini korban jiwa sebanyak 564 orang meninggal dunia, luka-luka sebanyak 1.584 orang

Selain NTB dan Sulteng, provinsi di Indonesia lainnya juga termasuk dalam daerah rawan gempa dan tsunami adalah Bengkulu.

(Baca Juga: Status Netizen di 2015 Soal Jembatan Kuning di Palu Jadi Kenyataan)

Dari hasil pengolahan gempa bumi yang teranalisa dari Strageof KSI, Stasiun Geofisika Kepahiang, Bengkulu, menghitung sejak awal September 2018 hingga 3 Oktober 2018, provinsi berjuluk "Bumi Rafflesia" ini telah terjadi gempa sebanyak 51 kali gempa dengan rata-rata magnitude (SR) 3,7.

Di mana untuk jumlah gempa bumi yang dirasakan di wilayah Bengkulu dan sekitarnya, terdapat 5 kejadian gempa bumi pada September 2018. Di mana gempa bumi terasa dengan magnitude terbesar 5,3 SR, pada Minggu 12 September 2018, sekira pukul 14.27 WIB, dengan lokasi gempa bumi di 127 km Barat Daya Manna, Kabupaten Bengkulu Selatan.

"Bengkulu termasuk dalam rawan bencana gempa," kata PMG Ahli Muda Stasiun Geofisika Kepahiang, Bengkulu, Sabar Ardiansyah, saat di konfirmasi Okezone, Rabu (3/10/2018).

Potensi Gempa di Bengkulu

Menurut Sabar, daerah Bengkulu, terdapat dua sumber gempa bumi yang setiap saat bisa terjadi. Hal tersebut di lihat dari posisi provinsi yang memiliki 10 kabupaten/kota ini. Sumber pertama, sampai Sabar, adalah potensi gempa bumi yang terletak di wilayah lautan. Di mana hal tersebut merupakan batas pertemuan dua lenpeng. Yakni, lempeng Indo-Australia dan Eurasi.

Lempeng Indo-Australia, jelas Sabar, relatif bergerak ke arah utara, sementara lempeng Eurasia bergerak ke arah selatan.

Karakteristik gempa bumi yang terjadi pada bagian laut ini, kata Sabar, memiliki kekuatan mulai dari gempa-gempa kecil hingga gempa besar. Selain itu, gempa bumi yang terjadi juga bisa berpotensi menimbulkan tsunami jika syarat-syarat terpenuhi.

Sabar mengulas, Bengkulu sempat di guncang gempa bumi besar, pada Minggu 4 Juni 2000, dengan kekuatan M=7,9. Gempa bumi ini telah mengakibatkan korban jiwa serta kerusakan bangunan yang tidak sedikit. Berselang 7 tahun kemudian, Bengkulu, kembali di guncang gempa, pada Rabu 12 September 2007, dengan kekuatan lebih besar M=8,5.

Astra Bantu Proses Pemulihan Infrastruktur Pascagempa & Tsunami Sulteng

(Baca Juga: Buwas Tak Terima jika Korban Gempa Palu Disebut Penjarah)

Selain potensi gempa bumi dari lautan, sambung Sabar, daerah Bengkulu juga memiliki potensi gempa bumi di wilayah daratan. Hal ini terjadi karena adanya sistem patahan lokal sumatera yang melalui wilayah Bengkulu. Setidaknya, kata Sabar, ada tiga patahan lokal yang ada di wilayah Bengkulu.

Yakni, patahan Musi (Segmen Musi) yang terletak di Kabupaten Kepahiang, patahan Manna (Segmen Manna) yang terletak di Kabupaten Bengkulu Selatan, dan patahan Ketahun (Segmen Ketahun). Di mana karakteristik gempa bumi darat biasa terjadi dengan kekuatan lebih kecil dari pada gempa bumi di laut.

"Namun, walaupun skala kekuatan kecil potensi kerusakan yang diakibatkan juga cukup besar mengingat lokasi gempa bumi darat biasanya lebih dekat dengan pemukiman penduduk serta kedalaman gempa yang sangat dangkal," sampai Sabar.

Pelajaran yang Bisa Dipetik

Dalam kasus gempa di Palu dan Donggala, gelombang tsunami datang dalam waktu begitu singkat. Hanya berselang kurang lebih 11 menit setelah terjadi gempa, gelombang tsunami menghantam dan meluluhlantakan bangunan di pesisir pantai. Waktu yang begitu singkat tentu tidaklah cukup mengambil tindakan evakuasi jika harus menunggu informasi dan perintah evakuasi dari pemerintah.

Sabar menyampaikan, untuk masyarakat yang tinggal di pesisir pantai tindakan yang paling tepat, adalah apabila merasakan gempa kuat, masyarakat harus mengambil tindakan evakuasi mandiri mencari tempat yang lebih tinggi. Guncangan gempa kuat yang pertama yang dirasakan sebagai alarm sesungguhnya. Jika gelombang tsunami tidak terjadi setelah menyelamatkan diri, sampai Sabar, maka masyarakat sudah melatih kesiapsiagaan dan bersyukur diselamatkan dari bahaya yang lebih besar.

"Sudah sepatutnya kita yang tinggal di kawasan aktif kegempaan untuk merealisasikan bangunan tahan gempa. Pemerintah setempat harus mengevaluasi bangunan-bangunan publik, baik pusat perbelanjaan, hotel, perkantoran, dan sekolah semua harus menerapkan standar bangunan tahan gempa," ujar Sabar.

Gempa di Palu, Menara Masjid Ini Tetap Kokoh Berdiri

(Baca Juga: Jokowi Tinjau Hotel Roa-Roa dan Kabupaten Donggala)

"Kita juga harus peduli dan mau menjaga peralatan yang menyangkut kepentingan orang banyak. Dalam kasus ini banyaknya komponen sensor gempa bumi yang di curi. Begitu juga dengan peralatan pendeteksi tinggi gelombang di laut yang di ganggu dan di curi, maka hal ini jangan lagi terjadi mengingat kegunaanya yang sangat penting," sambung Sabar.

Ujian yang melanda Indonesia melalui bencana gempa bumi dan tsunami ini, terang Sabar, sudah selayaknya menjadikan semua komponen masyarakat Indonesia, semakin sadar atas pentingnya ilmu mitigasi bencana. Selain itu, sampai Sabar, masyarakat musti mengenali jalur evakuasi di sekitar tempat tinggal masing-masing.

"Jangan sampai saat terjadi gempa kuat, kita tidak tahu harus menyelamatkan diri ke arah mana. Maka jalur evakuasi musti di ketahui masyarakat kemana saja kita harus pergi menyelematkan diri," jelas Sabar.

Kegiatan simulasi gempa kuat di lingkungan gedung bertingkat, terang Sabar, merupakan salah satu upaya melatih kesiapsiagaan sebelum menghadapi gempa yang sesungguhnya. Selain melatih kesiapsiagaan serta seberapa besar kepedulian masyarakat terhadap lingkungan dan fasilitas kantor, kegiatan simulasi gempa kuat juga bisa menjadi salah satu tolak ukur seberapa besar kapasitas dan fasilitas yang dimiliki.

"Kondisi gedung bertingkat tidaklah sama dengan gedung satu lantai, sehingga gedung bertingkat memerlukan jalur evakuasi yang tertata rapi dan dikuasai oleh penghuni gedung serta mudah dipahami oleh tamu yang berkunjung," pungkas Sabar.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini