Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Cerita 18 Jam Pemulihan Navigasi Penerbangan Pasca-Gempa Sulteng

Antara , Jurnalis-Rabu, 10 Oktober 2018 |11:17 WIB
Cerita 18 Jam Pemulihan Navigasi Penerbangan Pasca-Gempa Sulteng
A
A
A

JAKARTA - Gempa berkekuatan 7,4 Skala Richter yang mengguncang Kota Palu dan sekitarnya lebih dari sepekan lalu masih menyisakan pilu. Namun, kepingan-kepingan harapan yang turut terguncang gempa disusul sapuan tsunami itu mulai dikumpulkan kembali karena kehidupan harus berlanjut dan tidak boleh terhenti.

Kini kegiatan penerbangan sudah mendekati normal, meski masih menggunakan terminal sementara dan landasan pacu yang terbatas.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, terhitung 11.215 pergerakan penumpang di Bandara Mutiara SIS Al Jufri sejak 30 September hingga 8 Oktober 2018. Di balik itu semua, terdapat upaya keras yang terus dilakukan untuk mempercepat pemulihan seperti kondisi sedia kala, baik oleh regulator maupun operator penerbangan. Pasalnya, peran moda transportasi udara sangat vital karena dinilai yang paling cepat dalam mendistribusikan bantuan kemanusiaan, baik orang maupun barang.

Salah satu hal krusial yang harus dipulihkan dengan cepat saat itu adalah sistem navigasi penerbangan, karena pesawat tidak bisa beroperasi tanpa adanya instruksi dari pengatur lalu lintas (ATC).

Sementara, menara ATC Bandara Mutiara SIS Al Jufri kala itu pun turut ambruk, komunikasi terputus karena jaringan listrik yang mati total akibat dahsyatnya guncangan gempa. Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Indonesia atau Airnav Indonesia langsung menerbitkan "notice to airmen" (notam) bahwa Bandara Mutiara SIS Al Jufri ditutup sementara selama 24 jam.

Foto Bandara Mutiara Sis Al Jufri Kota Palu

(Baca Juga: Pengawasan Kampanye di Sulteng Pasca-Gempa, Antara Tugas dan Kemanusiaan)

Selama penutupan bandara sementara, pihak AIrnav Indonesia langsung menerbangkan radio komunikasi dari Balikpapan dan Makassar dengan helikopter untuk layanan navigasi darurat.

Direktur Airnav Indonesia Novie Riyanto menjelaskan hal terpenting dari pelayanan navigasi lalu lintas udara adalah komunikasi.

"Komunikasi dulu, karena kalau tidak ada komunikasi kan bahaya kalau pesawat sampai ke situ, dia enggak dapat info bagaimana kondisi bandara, bagaimana kondisi trafik yang lain," katanya.

Setelah itu, pemulihan navigasi dan pengawasan (surveillance). Dalam waktu yang lebih cepat dari yang diperkirakan, yaitu selama 18 jam pemulihan, akhirnya sistem komunikasi Airnav bisa berfungsi, sehingga pesawat bisa melakukan pendaratan dan tinggal landas.

Meskipun saat itu penerbangan masih menggunakan visual (visual flight rules/VFR) dan landasan pacu yang bisa dipakai hanya 2.000 meter karena 500 sisanya terbelah, hal itu kemajuan berarti untuk pemulihan tersebut.

"Pemulihan ini termasuk cepat, saya perintahkan membawa radio menggunakan helikopter pukul 17.00, kemudian pukul 11.00 paginya Hercules sudah bisa mendarat dan evakuasi," katanya.

Contoh Penanganan Novie mengatakan pengalaman pemulihan sistem komunikasi penerbangan di Palu pada 28-29 September lalu bisa dijadikan contoh untuk penanganan dalam kondisi darurat di bandara-bandara lain apabila terjadi bencana. "Pengalaman ini akan menjadi contoh bagaimana tower-nya roboh, listrik padam, tapi dengan cepat sudah bisa recovery lagi," ujarnya.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement