Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Cerita 18 Jam Pemulihan Navigasi Penerbangan Pasca-Gempa Sulteng

Antara , Jurnalis-Rabu, 10 Oktober 2018 |11:17 WIB
Cerita 18 Jam Pemulihan Navigasi Penerbangan Pasca-Gempa Sulteng
A
A
A

Saat ini, Airnav sudah mendatangkan menara ATC berjalan (mobile tower) setelah sepekan menggunakan menara darurat dan selagi mempersiapkan pembangunan menara baru.

Menara berjalan AirNav Indonesia tiba di Pelabuhan Pantoloan, Palu, 5 Oktober 2018 dan dijemput oleh tim teknik AirNav Indonesia. Direktur Teknik Ahmad Aulia untuk memimpin langsung tim dan memastikan menara berjalan segera beroperasi. Titik lokasi pemasangan ditentukan di dekat bangunan menara yang lama.

Tim kemudian menyiapkan infrastruktur yang dibutuhkan, seperti jaringan sumber daya listrik, jaringan telepon, dan kemudian menaikkan "cabin tower" sesuai ketinggian yang dibutuhkan karena berada di lokasi gempa, serta dilakukan juga tes kestabilan kabin.

Tahapan selanjutnya adalah melakukan pengaturan frekuensi, seperti frekuensi di menara saat ini, uji coba jangkauan peralatan VHF yang ada di kabin, serta memasang fasilitas komunikasi "ground to ground" untuk koordinasi.

Seluruh proses pemasangan ini dilakukan ekstra hati-hati sebab tidak boleh mengganggu operasional tower darurat yang beroperasi 24 jam.

Tahap paling akhir, uji coba operasional setelah melakukan serangkaian uji coba, pelayanan navigasi akhirnya dipindah ke menara berjalan mulai, Senin pagi.

"Pelayanan melalui 'mobile tower' ini memiliki keunggulan dari tower darurat sebelumnya. Dilengkapi sejumlah peralatan canggih, jangkauan radio VHF di atas 100NM yang membuat jangkauan komunikasi lebih luas sehingga mempercepat komunikasi tower dengan pesawat," jelas Novie.

Akibat Gempa 7,7 SR, Runway Bandara Palu Mengalami Retak-Retak

(Baca Juga: Pasca-Gempa, 8.550 Personel TNI-Polri Normalisasi Sulawesi Tengah)

Untuk petugas pemandu navigasi, menara berjalan ini juga lebih bersahabat karena dimensi kabin dengan panjang 6,058 meter, lebar 2,438 meter, dan tinggi 2,438 meter membuat ruang gerak petugas lebih leluasa.

Selain itu, kabin juga dilengkapi dengan fasilitas lampu penerangan, meja pengendali, "head set/hand microphone", perekam, lampu tembak sinyal, lampu darurat, serta pendingin ruangan.

Hal ini dibutuhkan agar ATC dapat konsentrasi sepenuhnya dalam melayani penerbangan, mengingat kepadatan penerbangan di Bandara Palu yang meningkat sangat signifikan.

ATC Antigempa Ke depannya Airnav akan membangun menara ATC antigempa di sejumlah bandara yang berada di wilayah cincin api untuk mengatisipasi bencana.

Airnav akan bekerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait dengan informasi kondisi geologi serta Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk konstruksi bangunan.

Terkait dengan biaya pembangunan menara ATC antigempa di Bandara Mutiara SIS Al Jufri Palu, Novie menyebutkan senilai Rp20 miliar-Rp30 miliar, termasuk untuk perkantoran dan peralatan.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement