nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dua Kritik Ini Diduga Jadi Alasan Jamal Khashoggi Diburu Arab Saudi

Rahman Asmardika, Jurnalis · Jum'at 12 Oktober 2018 13:25 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 10 12 18 1963076 dua-kritik-ini-diduga-jadi-alasan-jamal-khashoggi-diburu-arab-saudi-fQlPSqa3Xm.jpg Jamal Khashoggi hilang pada 2 Oktober, setelah mengunjungi Konsulat Arab Saudi di Istanbul. (Foto: EPA)

JURNALIS kenamaan Arab Saudi sekaligus kontributor untuk Washington Post yang dikenal sebagai pengkritik keras negara asalnya, Jamal Khashoggi, dilaporkan hilang sejak pekan lalu. Pria berusia 59 tahun itu mengunjungi Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki pada 2 Oktober untuk mengambil beberapa dokumen yang dibutuhkan untuk pernikahannya, tetapi tidak pernah terlihat lagi setelahnya.

Ada dugaan bahwa Khashoggi telah dibunuh di dalam gedung konsulat untuk membungkam kritik-kritiknya terhadap kerajaan dan pemimpin Arab Saudi. Khashoggi bahkan meninggalkan Arab Saudi dan tinggal di Amerika Serikat (AS) karena merasa khawatir akan ditangkap oleh otoritas pemerintah.

Berikut adalah dua kritik keras Khashoggi yang kemungkinan besar membuatnya menjadi target penguasa Arab Saudi:

BACA JUGA: Media: Jamal Khashoggi Diseret dan Dibunuh di Konsulat Saudi, Mayatnya Dimutilasi

Dukungan Terhadap Sistem Demokrasi

Khashoggi yang sempat dekat dengan orang-orang dalam lingkaran keluarga kerajaan dikenal sebagai pendukung penerapan sistem demokrasi di Arab Saudi yang bertolak belakang dengan sistem monarki absolut yang dianut Arab

Dia telah beberapa kali memberikan wawancara dengan media asing yang mengecam sistem monarki absolut Arab Saudi. Menurut Khashoggi, demokrasi diperlukan bagi kestabilan Arab Saudi di masa depan.

Saat terjadinya Arab Spring di beberapa negara Timur Tengah dan Afrika Utara, Khashoggi memperlihatkan keberpihakannya pada kelompok oposisi di Mesir dan Tunisia. Sikap itu lagi-lagi berlawanan dengan kebijakan Arab Saudi yang melihat kelompok-kelompok tersebut sebagai pemberontak yang mengancam negara.


Kritik Keras Terhadap Putra Mahkota Mohammed bin Salman

Melalui beberapa tulisannya Khashoggi melontarkan kritik keras terhadap Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman yang dia anggap bertindak layaknya diktator dengan menyingkirkan lawan-lawan politiknya menggunakan dalih pemberantasan korupsi dan memenjarakan aktivis yang memiliki pandangan berbeda.

Putra dari Raja Salman bin Abdulaziz itu juga dia anggap bertanggungjawab atas keterlibatan Arab Saudi dalam perang brutal di Yaman yang menyebabkan hilangnya puluhan ribu nyawa.

Dalam tulisannya di kolom opini Washington Post pada September 2017, Khashoggi mengungkapkan bagaimana Mohammed bin Salman yang diharapkan dapat membawa suara perubahan di Arab Saudi justru telah menimbulkan ketakutan dan represi di Negara Petrodolar itu.

BACA JUGA: Putra Mahkota Saudi Disebut Pria Paling Berbahaya di Dunia

Washington Post pekan ini melaporkan bahwa Putra Mahkota Mohammed bin Salman telah merancang sebuah rencana untuk membujuk Khashoggi yang tinggal di AS pulang ke Arab Saudi dan menahannya. Laporan itu dibuat The Post berdasarkan komunikasi pejabat Arab Saudi yang disadap oleh intelijen AS.

Kasus hilangnya Khashoggi telah menimbulkan reaksi dari Turki sebagai negara tuan rumah konsulat Arab Saudi di mana dia terakhir terlihat, dan dari AS , negara tempat tinggal Khashoggi. Hubungan Arab Saudi dengan kedua negara tersebut, terutama dengan Turki memburuk setelah AS dan Turki menuntut penjelasan atas apa yang sebenarnya terjadi pada Khashoggi.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini