nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

PSK Gay di Surabaya Peras Pelanggan hingga Ratusan Juta Rupiah

Syaiful Islam, Jurnalis · Rabu 21 November 2018 01:32 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 11 21 519 1980412 psk-gay-di-surabaya-peras-pelanggan-hingga-ratusan-juta-rupiah-faLvCTlfFf.jpg Penangkapan PSK gay di Surabaya yang memeras pelanggannya. (Foto: Syaiful Islam/Okezone)

SURABAYA – Seorang pekerja seks komersial (PSK) sesama jenis (gay) ditangkap anggota Tim Subdit Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Jawa Timur. Pria bernama Supriadi alias Andre alias Lorenzo (29) yang tinggal di Apartemen Educity Stanford, Kecamatan Mulyorejo, Kota Surabaya, ini diduga melakukan pemerasan.

Dari tangan tersangka, polisi menyita handphone dan sejumlah uang untuk dijadikan barang bukti. Kini tersangka dijebloskan dalam tahanan Mapolda Jatim. Polisi terus mengembangkan kasus tersebut untuk mengungkap kemungkinan ada jaringan lain.

Kapolda Jatim Irjen Luki Hermawan menjelaskan, modus yang dilakukan tersangka yakni merekam adegan hubungan intim dengan korban secara diam-diam. Tersangka sendiri bekerja sebagai gigolo atau PSK gay.

"Ini merupakan kasus pertama yang berhasil kami ungkap. Di mana seorang gigolo gay melakukan pemerasan kepada korbannya. Tersangka mengancam akan menyebarkan video intim itu ke keluarga atau teman kantor korban jika permintaan tidak dituruti," terang Luki, Selasa 20 November 2018.

(Baca juga: Polisi Bekuk PSK Gay yang Peras Pelanggannya Pakai Video Hubungan Intim)

Ia mengungkapkan, tersangka memeras korbannya sebesar Rp700 juta. Rupanya angka tersebut terlalu tinggi, lalu terjadi negosiasi. Akhirnya disepakati korban akan mengirim uang senilai Rp500 juta kepada tersangka asalkan video intim tersebut tidak disebar.

"Korban telah mentransfer Rp500 ribu kepada tersangka. Merasa diperas, korban cerita kepada temannya dan disarankan melapor ke polisi. Korban pun melapor kepada kami dan ditindaklanjuti dengan menangkap tersangka," ungkap Luki.

Berdasarkan pemeriksaan ternyata sudah ada dua korban lain yang diperas tersangka, tetapi keduanya belum sempat mengirim uang. Tersangka akan dijerat dengan Pasal 27 dan 45 Undang-Undang ITE. Adapun ancaman hukumannya empat tahun penjara dan denda hingga Rp 750 juta.

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini