nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Konjen AS di Surabaya Dicatut untuk Penipuan Penerimaan Karyawan

Syaiful Islam, Jurnalis · Senin 10 Desember 2018 14:25 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 12 10 519 1989197 konjen-as-di-surabaya-dicatut-untuk-penipuan-penerimaan-karyawan-iTIYlJaip3.jpg Pengungkapan penipuan yang mencatut nama Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya. (Foto: Syaiful Islam/Okezone)

SURABAYA – Kasus penipuan dengan mencatut nama Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya berhasil diungkap Subdit Siber Ditreskrimsus Polda Jawa Timur. Dalam kasus ini, polisi meringkus seorang tersangka bernama Joko S (37), warga Surabaya, yang ternyata pernah bekerja di Konjen AS tersebut.

Dari tangan tersangka, polisi menyita sejumlah barang bukti (BB), yakni dua ponsel dan kartu debit paspor BCA berwarna biru. Modus yang dilancarkan tersangka dengan mencatut nama Konsulat Jenderal Amerika Serikat dan menyebut ada lowongan kerja dengan gaji Rp6,1 juta per bulan.

Padahal, Konjen AS tidak membuka lowongan pekerjaan. Kemudian informasi palsu tersebut dikirim kepada para korban melalui pesan WhatsApp.

Atas perbuatan itu, tersangka dijerat pasal penipuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 juncto Pasal 51 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU 11/2008 Informasi dan Transaksi Elektronik dan Pasal 378 KUHP.

(Baca juga: Residivis yang Ngaku Kapolsek Pesanggrahan Pernah Tipu Istri Senov Rp45 Juta)

Wadireskrimsus Polda Jatim AKBP Arman Asmara menjelaskan, kasus penipuan ini berawal pada Oktober 2018. Ketika itu tersangka membuat akun WA dengan menggunakan foto dari staf HRD United States Consulate General di Surabaya berinisial BN.

Kemudian tersangka mengirim pesan kepada korban-korban yang berisi pemberitahuan bahwa Konjen AS di Surabaya membuka lowongan pekerjaan dengan gaji Rp6.100.000 per bulan, jam kerja pukul 09.00 sampai 16.00 WIB, Sabtu dan Minggu libur.

"Untuk lebih meyakinkan korban, tersangka mengirim kartu nama palsu yang mengaku sebagai BN dengan mencantumkan logo Konsulat Amerika Serikat. Apabila korban tertarik, tersangka mengirim gambar bertuliskan persyaratan yang lain. Seperti fotokopi dan dokumen asli Sertifikat Welding," terang Arman, Senin (10/12/2018).

Ada juga syarat berupa dua foto ukuran 3x4 dan biaya administrasi USD188 atau Rp2 juta untuk keperluan sepatu safety, seragam (dua celana panjang dan kemeja), kacamata safety, serta helm safety.

Jika korban bersedia memenuhi persyaratan yang diberikan, maka tersangka mengarahkan untuk melakukan transfer biaya administrasi Rp2 juta itu melalui rekening kios pulsa yang merupakan agen pulsa online.

(Baca juga: Ngaku Intel Polda Jabar, Pria Ini Raup Puluhan Juta Rupiah)

Ilustrasi uang hasil penipuan. (Foto: Okezone)

Setelah korban sudah transfer lunas biaya administrasi, lalu tersangka mencari jasa convert pulsa di media sosial Facebook dan menjual pulsa yang telah dikirim dengan harga yang ditentukan oleh penyedia jasa tersebut.

"Lalu hasil pencairan pulsa tersebut masuk ke rekening milik tersangka yang bergabung dalam kios pulsa sejak November 2018. Namun setelah korban mentransfer lunas biaya administrasi sebesar Rp2 juta, tidak kunjung ada pemanggilan dari pihak Kantor United States Consulate General di Surabaya," papar Arman.

Ia menambahkan, jumlah korban yang tertipu sebanyak enam orang. Adapun total kerugian dari para korban sebesar Rp12 juta. Pasalnya, setiap korban mengalami kerugian Rp2 juta.

Tersangka sendiri diketahui baru keluar dari Lapas Madiun tepatnya pada Maret 2018. "Tersangka masuk ke penjara tahun 2008 dengan kasus narkoba. Tersangka juga pernah bekerja di Konsulat Amerika Serikat di Surabaya selama dua tahun. Saat ini tersangka dijebloskan dalam tahanan Mapolda Jatim," jelas Arman.

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini