nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Schengen, Desa Kecil yang Mengubah Perjalanan Indonesia ke Eropa

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Rabu 12 Desember 2018 14:06 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 12 12 18 1990222 schengen-desa-kecil-yang-mengubah-perjalanan-indonesia-ke-eropa-X5gJRy6XmM.jpg Schengen (BBC)

SCHENGEN - Perjanjian Schengen membuat warga Indonesia hanya perlu membuat satu visa untuk mengunjungi puluhan negara. Siapa sangka Schengen hanyalah sebuah desa kecil berpenduduk 520 orang?

Berkedip sekali saja, dan Anda bisa tanpa sadar melewati negara-negara Eropa kecil.

Luksemburg misalnya, jarak terlebarnya dapat dilalui dengan mobil hanya dalam waktu satu jam. Sebelum Anda menyadarinya, Anda sudah tiba di negara-negara sekitar, seperti Prancis, Jerman, atau Belgia, dengan hanya mata elang yang memata-matai tanda perbatasan dan bendera bergaris di Grand Duchy jauh di belakang.

 Baca juga: Presiden Rumania Akui Belum Siap Ambil Alih Rotasi Pemimpin Uni Eropa

Kita bisa melakukan itu karena ukuran negaranya yang kecil, tetapi juga berkat warisan Luksemburg: sebuah perjanjian yang ditandatangani lebih dari 30 tahun yang lalu di desa kecil Schengen di ujung tenggara negara itu.

 https://ichef.bbci.co.uk/news/624/cpsprodpb/9E60/production/_104744504_e85614e5-91ac-499a-8ba1-ba624bd2a72e.jpg

Perjanjian Schengen terkenal secara dramatis mengubah cara kita melakukan perjalanan di Eropa, dan terus berkembang dari hari ke hari.

Luksemburg tidak begitu kecil

Dari permukaan, Luksemburg dapat dilihat sebagai pusat perdagangan yang kaku, di mana para pemodal besar Eropa menyibukkan diri dan uang pun dibuat. Negara ini juga hanya mengambil sedikit ruang di peta. Akibatnya, sering tanpa disadari diabaikan sebagai tempat tujuan, daripada tetangga-tetangganya yang lebih besar.

Sebagai anggota pendiri dari apa yang sekarang menjadi Uni Eropa, negara kecil ini adalah rumah bagi satu dari tiga ibukota UE - Luxembourg City (bersama dengan Brussels dan Strasbourg) - dan tetap menjadi pemain kunci dalam jalannya serikat.

Negara ini berdiri sebagai monarki konstitusional yang terjepit di antara dua republik raksasa, Prancis dan Jerman. Luksembug telah membayar harga untuk lokasinya, di bukan hanya satu, tetapi dua perang dunia, dam memastikan ada banyak sejarah yang ditawarkan.

 Baca juga: Sanksi AS Dijatuhkan, Eropa Berjanji untuk Tetap Buka Hubungan Dagang dengan Iran

Ada industri anggur dalam negeri yang berkembang pesat, budaya restoran yang mengesankan, museum dan tugu peringatan yang tak terhitung jumlahnya (dari benteng yang terdaftar di Unesco, pusat kota tua sampai makam Jenderal George S Patton Jr), dan cinta yang tampaknya melekat pada makanan laut, keju, dan segala kue-kue.

Pada tahun 1985, Luksemburg juga berperan penting dalam penciptaan aturan bersejarah: penandatanganan Perjanjian Schengen, perjanjian sepihak yang menjamin perjalanan bebas batas di negara-negara anggota Eropa.

Di jalan setapak tempat bersejarah ini, saya melakukan perjalanan menyusuri Lembah Moselle, bagian yang tenang dan sederhana di Luxembourg timur. Sungai Moselle dengan malas bertindak sebagai perbatasan alami antara Luksemburg dan Jerman.

 https://ichef.bbci.co.uk/news/624/cpsprodpb/13654/production/_104744497_4d7b7b1f-18c0-4ec7-8eeb-aebfbb00ab44.jpg

Lembah itu jelas merupakan pusat produksi anggur negara itu, dengan deretan ladang-ladang anggur yang terbentang di dataran rendah, yang diselingi oleh himpitan kota dan desa.

 Baca juga: Dukung Inggris dalam Kasus Skripal, Uni Eropa Panggil Pulang Dubesnya dari Rusia

Tepat saat saya berpikir bahwa saya hampir ke luar negeri, saya tiba di Schengen yang mungil, terselip di antara tanaman rambat di tepi barat Moselle.

Dengan kurang dari 520 penduduk, Schengan bukan nama besar, tujuan penuh gemerlap yang mungkin diharapkan untuk kesepakatan yang akan mengubah cara orang bepergian di Eropa.

Namun demikian, di sinilah, pada suatu pagi yang suram pada tanggal 14 Juni 1985, wakil-wakil Belgia, Prancis, Luksemburg, Jerman Barat (dulunya) dan Belanda, berkumpul untuk secara resmi menyegel kesepakatan mengenai zona bebas-perbatasan baru yang revolusioner.

Sedikit latar belakang

Jumlah perjanjian, aliansi, aliansi-lintas batas, dan kontra-kesepakatan yang muncul selama paruh kedua abad ke-20 di Eropa sangat membingungkan.

Daftar ini jelas membutuhkan birokrasi, tetapi untuk memahami sesuatu dari berbagai sisi keberpihakan saat itu, kita harus mundur jauh ke belakang. Jadi, tetaplah bersama penjelasan saya.

Ketika Perang Dunia II berakhir pada tahun 1944, Belgia, Luksemburg dan Belanda bergabung bersama untuk mendirikan Benelux. Partai yang terdiri dari tiga negara ini memprediksi manfaat yang akan datang setelah beberapa dekade, sebagai hasil dari kerjasama yang mungkin sulit, dan berharap untuk mendorong perdagangan melalui perjanjian pabean.

Baca juga: Spanyol Tuduh Rusia Bantu Sebarkan Propaganda Separatisme Catalunya

 https://ichef.bbci.co.uk/news/624/cpsprodpb/7750/production/_104744503_c6320118-62e6-4491-9be7-744a2a033cbe.jpg

Dibangun di Benelux, Perjanjian Roma 1957 menciptakan Masyarakat Ekonomi Eropa (EEC), sebuah serikat pabean yang diperluas dari enam negara anggota pendiri (Benelux plus Jerman Barat, Prancis dan Italia).

Pada awal 1980-an, ada 10 anggota EEC, dan sementara hanya berupa pemeriksaan perbatasan cepat yang diberlakukan di antara negara-negara itu. Kenyataannya, ini masih menghentikan arus lalu lintas, membutuhkan sumber daya manusia dan semakin dilihat sebagai pita merah yang tidak perlu.

Konsep perjalanan bebas perbatasan internal memecah belah para anggota. Setengahnya ingin pergerakan bebas berlaku untuk warga negara Uni Eropa saja. Dengan demikian tetap perlu pemeriksaan perbatasan internal untuk membedakan antara Uni Eropa dan warga negara non-UE.

Martina Kneip, manajer Museum Eropa Schengen, menjelaskan: "Ide perbatasan terbuka pada tahun 1985 adalah sesuatu yang luar biasa - seperti semacam utopia. Tidak ada yang benar-benar percaya bahwa itu bisa menjadi kenyataan."

Hanya lima anggota (Benelux, Perancis, dan Jerman Barat), yang ingin menerapkan perpindahan bebas semua orang dan barang. Mereka pun jadi ujung tombak pelopor penciptaan daerah yang akan diberi nama oleh Schengen.

 Baca juga: Dukung Inggris dalam Kasus Skripal, Uni Eropa Panggil Pulang Dubesnya dari Rusia

Kenapa Schengen?

Karena Luksemburg akan segera mengambil alih kepresidenan EEC, negara kecil itu berhak memilih di mana penandatanganan perjanjian ini akan berlangsung. Kebetulan, Schengen adalah satu-satunya tempat di mana Perancis dan Jerman berbatasan dengan anggota Benelux, jadi kota itu pun jadi tujuan pilihan.

Sebagai tempat pertemuan tiga negara, pemilihan Schengen penuh simbolisme. Untuk memastikan itu adalah urusan yang netral, para penandatangan berkumpul di sebuah kapal pesiar yang menyenangkan, MS Princesse Marie-Astrid, untuk menggoreskan pena di atas kertas. Kapal pesiar itu ditambatkan sedekat mungkin ke perbatasan tiga negara, yang membentang di tengah Sungai Moselle.

 https://ichef.bbci.co.uk/news/624/cpsprodpb/A125/production/_104735214_nxvmq6m1.jpg

Terlepas dari itu, penandatanganan di Schengen gagal menarik banyak dukungan atau perhatian pada saat itu. Lima negara anggota EEC masih menentangnya, dan banyak pejabat dari semua pihak tidak percaya itu akan berlaku atau berhasil. Sampai-sampai, tidak ada satu pun kepala negara dari lima negara penandatangan yang hadir pada hari itu.

Sejak awal, perjanjian itu diremehkan, "dianggap percobaan dan bukan sesuatu yang akan berlangsung lama," menurut Kneip. Hal ini diperparah karena penghapusan lengkap batas-batas internal dalam lima negara pendiri tidak terwujud sampai tahun 1995.

Area Schengen hari ini

Hari ini, kawasan Schengen terdiri dari 26 negara anggota. Dari jumlah tersebut, 22 adalah anggota Uni Eropa, sementara empat (Islandia, Swiss, Norwegia dan Liechtenstein) tidak.

Seperti dulu, Schengen saat ini masih dikritik. Krisis migran baru-baru ini dan serangan tahun 2015 di Paris merongrong Schengen, memberikan amunisi bagi mereka yang anti perbatasan terbuka untuk menyerang pada upaya inklusif yang dibuat oleh perjanjian.

Meskipun demikian, Area Schengen terus tumbuh, meskipun proses bergabung tetap rumit. Politik masih menentukan siapa yang dapat bergabung, karena anggota baru harus dipilih secara bulat.

Bulgaria dan Rumania, misalnya, telah berulang kali diveto dari bergabung dengan Schengen, sebagian besar karena kekhawatiran atas korupsi domestik dan keamanan perbatasan eksternal mereka.

Faktanya, tidak ada negara yang bergabung dengan Wilayah Schengen selama beberapa tahun; Liechtenstein adalah tambahan terakhir pada tahun 2011.

Namun demikian, mereka yang pro Schengen jauh lebih besar daripada kontra untuk mayoritas orang. Seperti yang Kneip amati: "Perjanjian Schengen adalah sesuatu yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari semua negara anggota Schengen - sekitar 400 juta orang."

Untuk penduduk lokal, ini dapat berarti sesederhana mengunjungi teman dan pergi bekerja, sampai ikut menikmati keuntungan dari pajak bahan bakar yang relatif rendah di Luksemburg bila dibandingkan dengan tetangganya, khususnya diesel.

Sedangkan untuk pelancong, Perjanjian Schengen memberikan akses langsung ke semua negara anggota, membuat perjalanan - baik itu melalui jalan darat, kereta api atau udara - lebih cepat dan lebih mudah.

Visa Schengen memungkinkan pelancong non-Uni Eropa mengajukan permohonan visa tunggal yang berlaku selama 90 hari untuk masuk ke semua negara peserta. Daya tariknya sangat jelas, sehingga menghemat waktu dan uang para pelancong.

Bagaimana dengan Schengen itu sendiri?

Karena Schengen tidak berada di jalan utama apa pun, Anda hanya akan berada di sana jika Anda memang berusaha secara sadar untuk mengunjunginya.

Sekitar 35 km dari Luxembourg City, rute ini membawa Anda melewati hutan, melewati lahan pertanian, dan turun ke Lembah Moselle. Pemandangannya berubah sekali ketika Anda menuruni bukit-bukit pedesaan ke kota Remich.

Dari sini, Anda dapat berkendara di tepi sungai yang menyenangkan, berkelok-kelok di antara lereng yang dilapisi anggur dan Sungai Moselle ke episentrum Schengen, Museum Eropa.

Di sini, kisah tentang kemunculan Area Schengen disajikan secara ahli melalui display interaktif di dalam dan berbagai monumen di luar.

Jangan lewatkan kabinet yang berisi topi petugas perbatasan resmi dari negara-negara anggota pada saat mereka bergabung dengan wilayah tersebut. Masing-masing punya sepotong identitas nasional yang diserahkan demi Schengen.

Bagian Tembok Berlin yang menjengkelkan ditempatkan dengan sempurna di depan museum, untuk mengingatkan kita semua bahwa tembok itu - tidak berdiri untuk selamanya.

Lebih jauh di sepanjang dermaga di depan museum, Anda akan menemukan tiga lempengan baja, masing-masing dengan bintang mereka sendiri untuk memperingati anggota pendiri. Akhirnya, ada Pilar Bangsa-bangsa yang mencolok, dengan indahnya memaparkan pemandangan-pemandangan ikonik dari setiap anggota Area Schengen.

Tentu saja, ada banyak yang bisa dinikmati dari desa perbatasan sederhana ini daripada undang-undang internasional.

Pengunjung dapat memperpanjang masa tinggal mereka untuk menikmati pelayaran sungai di Moselle, pergi hiking atau bersepeda di bukit-bukit sekitarnya, atau mencicipi beberapa crémant (anggur putih khas wilayah ini) untuk mendapatkan rasa sejati kehidupan di Schengen, pedesaan kecil yang berkomitmen untuk sejarah.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini