nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Rahaf Al-Qunun, Perempuan Saudi yang Selamat dari Kematian Berkat Cuitannya

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Jum'at 11 Januari 2019 07:54 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 01 11 18 2002916 rahaf-al-qunun-perempuan-saudi-yang-selamat-dari-kematian-berkat-cuitannya-SsZ2ImVtE7.jpg Rahafal Al-Qunun (Reuters)

BANGKOK - Pada Sabtu malam 5 Januari 2019, suatu keadaan membahayakan terungkap lewat sebuah akun baru Twitter.

Rahaf Mohammed al-Qunun, 18 tahun, yang melarikan diri dari keluarganya di Kuwait, mengirimkan serangkaian cuitan memohon pertolongan dari sebuah kamar hotel di Bangkok.

loading...

"Saya anak perempuan yang melarikan diri ke Thailand. Saya sekarang dalam keadaan bahaya karena kedutaan besar Arab Saudi mencoba untuk memaksa saya pulang," demikian isi cuitan pertamanya dalam bahasa Arab.

 Baca juga: Kabur dari Keluarga karena Diancam Dibunuh, Kasus Perempuan Saudi Ini Ditangani PBB

Kemudian dia mengatakan sesuatu yang banyak mendapat perhatian, "Saya ketakutan. Keluarga saya akan membunuh saya."

Orang melihatnya dan cuitan pertama dengan tagar #SaveRahaf dikirimkan.

 https://ichef.bbci.co.uk/news/624/cpsprodpb/14660/production/_105125538_hi051505586.jpg

Beberapa menit kemudian pegiat Amerika asal Mesir, Mona Eltahaway menerjemahkan cuitan ke dalam bahasa Inggris dan mengirimkannya ke ratusan ribu pengikutnya.

Beberapa jam kemudian cuitan tersebut diperhatikan Human Rights Watch dan akhirnya wakil direktur Asia LSM itu di Bangkok, Phil Robertson, mengirimkan hal ini. ‏

 Baca juga: Sejumlah Migran Nekat Berenang & Naik Rakit untuk Masuk ke Amerika

Satu hari berikutnya, pada Minggu dini hari, dia bertukar pesan Twitter secara langsung dengan Mohammed al-Qunun, memandu perempuan muda tersebut saat berurusan dengan petugas bandara.

#SaveRahaf

Meskipun begitu dia terus mencuit langsung setiap menit terkait dengan pengalamannya dan menaruh video yang memperlihatkan semua hal yang dialaminya di bandara. Sepanjang hari Minggu itu, unggahannya semakin populer.

Ketakutan dan keputusasaan yang disampaikan lewat cuitan mengundangkan simpati dan dukungan pengguna Twitter.

Cuitan dengan hashtag #SaveRahaf semakin populer dan pada Minggu sore, terdapat lebih dari setengah juta cuitan, menurut Twitter.

Seorang remaja tidak dikenal di Arab Saudi yang sebelumnya tidak pernah didengar dengan hanya 24 follower (pengikut), dalam waktu kurang dari 24 jam diikuti 27.000 orang.

 Baca juga: Siapakah Rahaf al-Qunun, Perempuan Saudi yang Kabur dari Keluarga, Mengaku Murtad dan Cari Suaka?

"Ketika saya mendengar pernyataan terbuka Rahaf Mohammed al-Qunun bahwa dia meninggalkan agamanya, saya mengetahui keadaan akan menjadi sangat buruk jika dia dikirim langsung ke Arab Saudi," kata Phil Robertson kepada BBC News.

"Saat itu, tidak ada lagi yang perlu dipertanyakan di pikiran saya - dia memerlukan bantuan kami."

Orang yang meninggalkan agama Islam atau apostasy akan dihukum mati di Arab Saudi.

Gerakan menyelamatkan Rahaf al-Qunun terus meningkat terutama di Australia negara di mana dia sekarang kemungkinan akan diberikan izin tinggal.

"Twitter bertujuan memberikan platform dimana suara yang terpinggirkan dapat dilihat dan didengar. Ini adalah hal mendasar terkait dengan siapa kita dan sangat penting bagi keefektifan layanan kami," demikian pernyataan resmi yang diterima BBC.

 Baca juga: Mau Dideportasi, 33 Imigran Sri Lanka yang Terdampar di Nias Diboyong ke Sibolga

Menjadi dramatis

Senin pagi, keadaan semakin memburuk dengan kedatangan pejabat imigrasi Thailand di kamar hotel Rahaf untuk mendeportasinya ke Kuwait.

Lewat percakapan langsung di Twitter, Rahaf mengikuti masukan Human Rights Watch: untuk tidak menyerahkan telepon genggamnya, sama sekali.

Dan ini menjadi hal yang sangat penting.

Remaja panik yang berlindung pada wartawan Australia, Sophie McNeill itu menolak menaiki pesawat. Dia terus menerus mendokumentasikan pengalamannya di Twitter.

Pengikutnya berlipat dua menjadi lebih 66.400 orang.

Wartawan Asia Tenggara BBC, Jonathan Head, yang menjadi bagian dari jaringan wartawan asing yang terus mengikuti kasus Rahaf al-Qunun mengatakan perhatian sangat besar yang didorong media sosial adalah faktor penting terhadap yang terjadi pada Rahaf.

"Rahaf Mohammed al-Qunun adalah seorang perempuan muda yang ketakutan. Perhatian pada nasib Rahaf mempengaruhi dukungan di Twitter saat pemerintah Thailand berencana mendeportasinya pada hari Senin pagi.

 Baca juga: Tolong! 3 Hari Terombang-ambing di Laut, Puluhan Imigran Asal Sri Lanka Terdampar di Nias

"Ini adalah sebuah cerita kemanusiaan yang sangat kuat, terjadi saat itu juga, yang tidak pasti akan berakhir seperti apa."

"Terkait dengan penciptaan dukungan dan respon terhadap keadaan krisis, Twitter adalah alat media sosial yang tepat bagi Rahaf Mohammed al-Qunun karena memungkinkan berbagi informasi dengan cepat," kata Phil Robertson.

"Peningkatan dukungan di Twitter (tidak hanya) diperhatikan wartawan dan editor, hal ini juga mengundang perhatian media umum Thailand. Cuitannya juga menarik perhatian diplomat setempat disamping pejabat tinggi UNHCR dan pemerintahan.

Ini sangat penting dalam mendesak Thailand memikirkan ulang pendekatan mereka, begitu sudah jelas bahwa Rahaf Mohammed al-Qunun tidak akan berdiam diri."

"Minggu malam, para pejabat Thailand berkeras bahwa dia akan dikirim pulang dan media Thailand masih belum melaporkan berita ini, tetapi pada Senin pagi keadaan berubah," lapor wartawan BBC Jonathan Head.

Sekarang Rahaf al-Qunun telah aman, dia dinyatakan sebagai pengungsi oleh PBB.

Rahaf Mohammed al-Qunun yang masih muda dan trampil menggunakan medsos berhasil mengambil alih kendali dengan menghimpun kampanye menyelamatkan kehidupannya lewat internet.

Di akhir peristiwa ini dia memiliki 126.000 pengikut di Twitter. Selama lima hari akunnya terus aktif.

Pada kasus lain di mana media sosial digunakan dalam cara yang sama, seorang pria Suriah yang terdampar di bandara Malaysia selama berbulan-bulan, berhasil mendapatkan suaka di Kanada setelah berkampanye di Twitter dan Facebook.

Tetapi memang tidak semua orang yang terancam nyawanya seberuntung mereka.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini