Saat itu, penjaga di sana yang awalnya sangat galak kepada para tahanan, berubah 180 derajat dari perilaku biasanya. Ternyata, mereka memiliki niat busuk, yakni mengancam Gulbachar agar tak menceritakan kejadian yang ada di kamp tersebut.
"Saya diberi krim supaya kulit tidak terlihat bekas luka-luka. Tapi ternyata mereka ancam saya agar tidak menceritakan segala kejadian di sana," kenang Gulbachar.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Majelis Nasional Turkistan Timur Seyit Tumturk menjelaskan, rakyat Uighur mengalami penyiksaan selama ditangkap oleh Pemerintah Cina. Dirinya mengapresiasi muslim Indonesia yang banyak menaruh perhatian.
"Sebagaimana kita ketahui Turkistan Timur berada dalam penindasan oleh Pemerintah Komunis Cina. Itulah kedatangn kita ke Indonesia untuk berterima kasih. Dalam hitungan PBB mengerluarkan angka tahanan adalah satu juta, akan tetapi menurut kita, data kita, jumlahnya 3-5 juta orang. Meraka dalam tahanan mendapatkan perlakuan tahanan lebih kejam dari NAZI," ujarnya.
(Baca Juga : Mengapa Ketegangan Antara Pemerintah China dan Etnis Uighur Terus Terjadi?)
Ia menyayangkan, atas sedikitnya respon muslim dunia atas masalah tersebut. Ia berharap seluruh umat Islam bersatu melawan kezaliman pemerintah China.
"Sayang sekali sbenayak 35 juta masyakrat muslim Uighur yang dapat kezaliman, dunia buta dan tuli apa yamg terjadi di Turkistan Timur (Uighur)," kata dia.
(Baca Juga : Din Syamsuddin Kecam Penindasan terhadap Muslim Uighur di China)
(Erha Aprili Ramadhoni)