Soal Pemberantasan Korupsi, TKN Yakin Kemampuan Jokowi dan Sindir Prabowo-Sandi

Sarah Hutagaol, Jurnalis · Minggu 13 Januari 2019 12:20 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 01 13 605 2003774 soal-pemberantasan-korupsi-tkn-yakin-kemampuan-jokowi-dan-sindir-prabowo-sandi-y3QLQdTSNd.jpg

JAKARTA - Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo (Jokowi)- KH Ma'ruf Amin, Ace Hasan Syadzily optimis, pasangan yang diusungnya bisa membuat Indonesia menjadi negara yang bersih dari korupsi.

"Korupsi masih bisa diberantas. Levelnya tidak separah kanker stadium 4 yang hampir mustahil dapat diobati. Terlalu lebay dan berlebihan jika korupsi tidak dapat diberantas yang menunjukan itu pandangan yang pesimistis terhadap bangsa ini," ujar Ace dalam keterangan tertulisnya yang diterima Okezone, Minggu (13/1/2019).

Apa yang akan dilakukan Jokowi-Ma’ruf sangat jelas terbaca dalam visi-misi pasangan calon yang disampaikan ke KPU. Visi-misi itu, kata Ace, mencakup agenda aksi perubahan yg konsisten, komprehensif, sistimatis dan tajam menyentuh episentrum perubahan dalam pemberantasan korupsi.

"Ini kontras dengan visi misi Prabowo-Sandi yang bicara tentang pemberantasan korupsi tidak memiliki rujukan dalam visi & misinya yang diserahkan ke KPU," kata Ace.

Ace mengatakan, pemberantasan korupsi akan efektif apabila pemimpin puncaknya berintegritas, bukan bagian pemburu rente, dan berani melawan kekuatan oligarki ekonomi-politik.

Ace Hasan

(Baca Juga: Politik Jangan Sampai Berada di Tangan Politikus yang Tidak Pro Rakyat)

(Baca Juga: Gatot Nurmantyo Minta Fotonya di Baliho Prabowo-Sandiaga Diturunkan)

Jokowi, sambungnya, memiliki rekam jejak sebagai pemimpin yang berintegritas. Pada tahun 2010, saat menjadi Wali Kota Solo, Jokowi mendapatkan Bung Hatta Anti Corruption Award. Upaya pencegahan korupsi tersebut dilanjutkan saat menjadi Gubernur DKI Jakarta dengan e-budgetting.

Dalam upaya pemberantasan korupsi ini, aspek pencegahan yang sangat penting, bukan hanya aspek penindakan.

"Pak Jokowi menawarkan agenda aksi yang konkret dan komprehensif. Pak Jokowi sudah meletakkan fondasi berupa strategi nasional (stranas) pencegahan korupsi," kata dia.

Agenda berikutnya, adalah melaksanakan Stranas itu secara konsisten dengan fokus pada perizinan dan tata niaga, keuangan negara, serta penegakan hukum dan reformasi birokrasi di setiap kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan lainnya.

"Pak Jokowi akan terus meningkatkan kapasitas Aparat Pengawas Intern Pemerintah (APIP). Memperkuat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) serta meningkatkan sinergi dan kerja sama antar-institusi penegak hukum dalam pemberantasan kejahatan korupsi," ujar Ace.

Dalam empat tahun ini, kata Ace, Jokowi telah menggiatkan transaksi non-tunai sebagai tindakan pencegahan penggunaan uang tunai dalam tindak korupsi dan pencucian uang.

"Pembayaran jalan tol sampai dengan bantuan pangan non-tunai adalah inovasi transaksi non-tunai di era Pak Jokowi. Pak Jokowi akan terus mempertegas penindakan kejahatan perbankan dan pencucian uang. Sehingga, akan ada efek jera karena terjadi proses pemiskinan para koruptor," kata Ace.

Kunci dari pemberntasan korupsi, lanjutnya, adalah integritas dan rekam jejak. Dan Jokowi tidak punya beban terkait dengan konflik kepentingan terkait bisnis keluarga. "Anak-anaknya justru jualan martabak dan pisang goreng. Sebaliknya sulit membayangkan akan tidak ada konflik kepentingan terkait bisnis keluarga Prabowo dan juga Sandi," ujar dia.

Jadi, menururnya, efektivitas pemberantasan korupsi akan tergantung pada puncuk pimpinannya dalam hal ini Presiden. Jika pemimpinnya bersih, berintegritas dan berani maka ada harapan terhadap pemberantasan korupsi di Indonesia.

"Sebaliknya, kalau rekam jejaknya meragukan, dengan sarat beban konflik kepentingan, memiliki jalinan dengan kekuatan oligarki masa lalu dan dikelilingi para pemburu rente, maka itu sama saja menawarkan janji palsu," ujarnya.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini