nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Warga Swadaya Membuat 'Gardu Pandang' untuk Pantau Aktivitas Gunung Merapi

Agregasi Solopos, Jurnalis · Senin 04 Februari 2019 11:44 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 02 04 510 2013464 warga-swadaya-membuat-gardu-pandang-untuk-pantau-aktivitas-gunung-merapi-50RqVg7MZI.jpg Warga Melintas di Samping Rumah Barji Hajar Subroto atau Lokasi 'Gardu Pandang' di Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Klaten, Jawa Tengah (foto: Taufiq Sidiq Prakoso/Solopos)

KLATEN - Warga RT 016/RW 006, Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Klaten, Jawa Tengah, swadaya membuat gardu untuk memantau aktivitas Gunung Merapi. Hal itu dilakukan, menyusul suhu lingkungan di perkampungan lereng Merapi yang dirasa lebih panas dibanding biasanya.

Puluhan pemuda berkumpul di rumah Barji Hajar Subroto, 72, RT 016/RW 006, Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Klaten. Mereka memenuhi setiap lantai gardu pandang yang berdiri tepat di garasi rumah itu untuk mengamati aktivitas puncak Gunung Merapi menyusul suhu lingkungan di perkampungan mereka yang dirasa lebih panas dibanding biasanya.

(Baca Juga: Gunung Merapi Semburkan Asap Setinggi 50 Meter) 

Hingga pukul 17.30 WIB, pemuda yang stand by di lantai teratas melihat luncuran awan panas atau wedhus gembel mendekati perkampungan di Sidorejo. Sontak mereka panik dan segera mengabarkan ke warga yang masih bertahan tinggal di rumah untuk segera mengungsi.

 

Sirene yang terpasang di gardu pandang langsung dibunyikan. Dalam sekejap kampung kosong dan warga selamat menuju pengungsian. Awan panas yang semula mengarah ke Sidorejo berbelok arah menuju wilayah Kecamatan Cangkringan, Sleman, DIY.

Peristiwa erupsi Merapi pada Senin medio Oktober 2010 itu membekas dalam ingatan Broto. Peristiwa itu terjadi selang dua bulan gardu pandang di rumahnya dibangun.

“Mungkin kalau tidak diamati dari puncak gardu pandang luncuran awan panas tidak terlihat,” kata pensiunan pegawai Perhutani itu saat ditemui Solopos di rumahnya, Jumat 1 Februari 2019.

Gardu pandang dibangun bapak enam anak itu menggunakan dana pribadi dengan meninggikan garasi. Niatan Broto membangun gardu pandang lantaran rumahnya berada pada jarak 5 km dari puncak Merapi serta berada paling ujung dan sisi paling barat Dukuh Ngemplak dan Butuh Kulon.

Rumah Broto tak jauh dari Kali Woro sebagai tempat meluncurnya material dari puncak Merapi termasuk wedus gembel. Broto memang tidak tinggal di kampung paling atas Sidorejo lantaran masih ada perkampungan lain seperti Dukuh Deles, Bangan, serta Petung.

Namun, ketika kondisi darurat, warga dari wilayah teratas yang menyelamatkan diri tak melintas di samping rumah Broto melainkan jalan di tengah perkampungan lantaran menjauhi alur sungai.

Turunnya warga dari wilayah atas sebenarnya menjadi penanda Broto untuk segera menyelamatkan diri. Alhasil, Broto mulai membangun gardu pandang agar ia bisa secara mandiri mengetahui aktivitas Merapi terkini.

Rencana Broto didukung para pemuda dan warga. Mereka gotong royong mendirikan gardu pandang. Kurang dari sebulan, gardu pandang setinggi 8,4 meter rampung dibangun.

Gardu pandang itu memiliki tiga lantai termasuk garasi dengan luasan setiap lantai sekitar 15 meter persegi. Seluruh bahan baku seperti semen dan pasir dibeli menggunakan kantong pribadi Broto.

“Nilainya berapa saya lupa karena bertahap. Tetapi, kalau ditotal lebih dari Rp20 juta,” kata Broto.

Seusai erupsi Merapi 2010 dan warga kembali ke rumah mereka, gardu pandang di rumah Broto tak lantas sepi. Para pemuda masih memanfaatkan lokasi itu sebagai tempat menongkrong serta pengamatan ancaman banjir lahar hujan.

Berbagai peralatan pemantauan pun melengkapi fungsi gardu pandang setahun terakhir. Peralatan seperti empat handy talky (HT), satu radio rig, serta teropong tersimpan di ruangan lantai II.

Masing-masing HT sudah tersambung dengan frekuensi peralatan pengirim sinyal seismik milik BPPTKG yang terpasang di dekat kawah. Perlengkapan juga terhubung dengan frekuensi posko pengamatan di wilayah lereng Merapi.

Seluruh peralatan disediakan secara swadaya oleh para pemuda dan dititipkan di ruangan lantai II gardu pandang. “Ada teropong, sayangnya sudah rusak pada bagian fokus,” kata Broto.

Broto pun menganggap gardu pandang yang ia bangun tak lagi menjadi miliknya melainkan milik warga. Hampir saban malam ada warga yang nongkrong terlebih belakangan ada peningkatan status Merapi dari normal menjadi waspada.

“Walau tidak ada hitam di atas putih, gardu pandang ini sudah diserahkan ke warga. Kunci penyimpanan peralatan juga saya serahkan ke pemuda. Setiap malam itu ada lima sampai tujuh orang di gardu pandang,” jelas dia.

(Baca Juga: Gunung Merapi Lontarkan Lava Pijar 4 Kali ke Arah Kali Gendol) 

Ketua RT 016, Desa Sidorejo, Jenarto, membenarkan gardu pandang di rumah Broto dibangun dan dikembangkan secara mandiri. Ia tak menampik sebagian peralatan yang ada di gardu pandang tersebut miliknya seperti satu HT, satu radio rig, serta satu radio darurat FM.

Jenarto menjelaskan gardu pandang untuk pengamatan puncak Merapi di kampungnya bakal ditambah. Selain gardu pandang di rumah Broto, ada satu gardu pandang lagi yang masih dalam proses pembangunan di wilayah Dukuh Ngemplak.

“Ada program rehab bak air dari pansimas kemudian dikembangkan sekalian untuk gardu pandang. Tetapi, upah tukangnya semi sukarelawan atau di bawah upah umumnya,” kata Jenarto.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini