Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Fogging Gratis di Medan Helvetia, Caleg Perindo Dengarkan Curhat Korban DBD

Wahyudi Aulia Siregar , Jurnalis-Senin, 04 Februari 2019 |10:14 WIB
<i>Fogging</i> Gratis di Medan Helvetia, Caleg Perindo Dengarkan Curhat Korban DBD
Caleg Perindo fogging wilayah di Medan Helvetia. (Foto : Wahyudi Aulia Siregar/Okezone)
A
A
A

MEDAN – Para pengurus dan calon anggota legislatif (caleg) Partai Persatuan Indonesia (Perindo) menggelar penyaluran bantuan kesehatan berupa pengasapan (fogging) di kawasan permukiman penduduk di Jalan Amal Luhur, Kelurahan Dwikora, Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan.

Ratusan rumah warga serta pekarangan mereka menjadi objek sasaran fogging. Para kader dan caleg Perindo juga mengasapi areal kosong, parit, selokan, serta tong sampah yang menjadi tempat persembunyian nyamuk dan serangga.

Hadir dalam kegiatan tersebut caleg Perindo untuk DPRD Provinsi Sumatera Utara nomor urut 1 dari daerah pemilihan (dapil) Sumut-2 (Medan-B), Budianta Tarigan serta caleg Perindo untuk DPRD Kota Medan nomor urut 3 dan 5 dari dapil Medan-1(Barat, Petisah, Helvetia), H Marlina dan Putri Sari.

Budianta Tarigan menyebutkan, kegiatan fogging ini mereka lakukan untuk mengantisipasi meluasnya penyebaran penyakit yang disebabkan atau ditularkan oleh serangga, seperti demam berdarah dengue (DBD) dan malaria.

Fogging ini telah ditetapkan sebagai program nasional Perindo oleh Ketua Umum Partai Perindo, Hary Tanoesoedibjo. Penetapan itu sehubungan dengan terjadinya kasus luar biasa (KLB) DBD di sejumlah wilayah di Indonesia.

Caleg Perindo fogging wilayah Medan Helvetia. (Foto : Wahyudi Aulia Siregar/Okezone)

"Di Medan sendiri angka kasus DBD ini cukup tinggi sehingga kita merasa harus ikut turun langsung mengantisipasinya," ujar Budianta.

Wakil Ketua Bidang Kader Anggota dan Saksi pada DPW Partai Perindo Sumatera Utara itu juga menyebutkan, dipilihnya lokasi Kelurahan Dwikora sebagai objek sasaran fogging karena Perindo telah menerima laporan adanya korban DBD di wilayah itu. Setelah melakukan fogging, para kader dan caleg Perindo pun sempat menjenguk korban.

"Korban namanya Rohim (18). Baru beberapa hari pulang dari rumah sakit akibat DBD. Saat ini masih menjalani rawat jalan. Maka itu kita lakukan fogging di sini agar setidaknya nyamuk-nyamuk Aedes aegypti yang masih ada di sini bisa dimusnahkan," tuturnya.

Sementara itu, Marlina menyebutkan, sebagai perempuan ia mengajak seluruh ibu-ibu yang ada di Kelurahan Dwikora untuk proaktif melawan penyebaran DBD. Upaya yang bisa dilakukan di antaranya dengan membersihkan lingkungan tempat tinggal mereka, serta menjalankan pola hidup sehat di dalam keluarga.

"Kita (perempuan) ini kan sejatinya motor penggerak dalam keluarga. Jadi, kita harus lebih proaktif demi keluarga kita. DBD ini sudah sangat meresahkan dan tentunya kita tak ingin keluarga kita menjadi korban," ucapnya.

Giyono, ayah dari Rahim mengatakan, anaknya terserang DBD beberapa pekan lalu. Saat itu suhu badannya sangat tinggi dan tubuhnya lemas.

"Untungnya kita cepat bawa ke rumah sakit. Karena kalau tidak, bisa tidak tertolong. Kita upayakan bisa sembuh. Ini belum sepenuhnya pulih, tapi ya sudah naikkan. Masih tetap kontrol. Infusnya aja belum dilepas," katanya.

Giyono mengaku telah melaporkan kasus DBD anaknya ini ke petugas kelurahan. Ia juga sudah meminta segera dilaksanakan fogging di sekitar rumah mereka.

Caleg Perindo fogging wilayah Medan Helvetia. (Foto : Wahyudi Aulia Siregar/Okezone)

"Tapi sampai saat ini tidak ada jawaban kapan fogging-nya dilaksanakan. Beruntung kami hari ini Perindo mau datang dan mengasapi rumah kami. Terima kasih Perindo," ucapnya.

Giyono berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Medan lebih responsif dalam mengantisipasi wabah DBD sehingga nantinya tidak kembali disalahkan warga, jika terjadi KLB.

(Baca Juga : Gelar Sarasehan, Caleg Perindo Ajak Pedagang Keliling Naik Kereta Kelinci)

"Kita heran sekali memang lihat Pemkot Medan saat ini. Lambat sekali. Nanti begitu disalahkan, enggak terima. Malah masyarakat yang disalahkan," katanya.

Sebagai catatan, pada 2018, sebanyak 1.490 orang warga terjangkit DBD. Sebanyak 13 di antaranya meninggal dunia. Medan menjadi daerah penyumbang angka kasus DBD terbesar di Sumut yang mencapai 5.713 orang dengan korban meninggal dunia mencapai 25 orang.

(Baca Juga : Temu Pedagang Keliling Solo Raya, Caleg Perindo Fokus Berikan Bantuan Hukum untuk Rakyat Kecil)

(Erha Aprili Ramadhoni)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement