Share

Rayakan Imlek, Warga Bangkok Tetap Bakar Dupa Meski Polusi Udara Masih Parah

Rahman Asmardika, Okezone · Selasa 05 Februari 2019 16:07 WIB
https: img.okezone.com content 2019 02 05 18 2014004 rayakan-tahun-baru-imlek-warga-bangkok-tetap-bakar-dupa-meski-polusi-udara-masih-parah-nLlicYrVjm.jpg Foto: AFP.

BANGKOK – Warga keturunan China di Bangkok, Thailand tampaknya tidak menghiraukan imbauan dari pemerintah untuk menahan diri dan tidak membakar dupa dan “uang arwah” untuk merayakan Tahun Baru Imlek di saat kota itu mengalami masalah polusi udara.

Sebagian be  sar warga yang merayakan Tahun Babi yang dimulai pada Selasa, 5 Februari, mengabaikan imbauan kesehatan dan tetap membakar dupa persembahan untuk leluhur mereka di kuil-kuil. Banyak di antara mereka yang datang dengan mengenakan masker anti-polusi.

BACA JUGA: Imbas Kabut Beracun, Warga Bangkok Mulai Batuk Darah

"Mustahil untuk sepenuhnya menghentikan pembakaran dupa," kata Romnalin Wangteeranon, 61, dari balik maskernya sebagaimana dilansir Straits Times, Selasa (5/2/2019). "Ini festival yang tidak bisa dilakukan oleh kami, para keturunan, tanpa membakar dupa."

Kualitas udara di Bangkok telah berada pada tingkat yang tidak sehat karena jumlah partikel debu berbahaya, yang dikenal sebagai PM 2.5 melebihi tingkat aman di beberapa distrik di mana masker anti-polusi telah terjual habis di sebagian besar toko obat.

PM 2.5 adalah campuran tetesan cairan dan partikel padat yang dapat mencakup debu, jelaga dan asap, salah satu ukuran utama Indeks Kualitas Udara (AQI). Pada Selasa, AQI Bangkok berada di angka 110, menjadikannya salah satu kota dengan udara paling tercemar di dunia.

Pemerintah Bangkok telah melakukan sejumlah langkah untuk meningkatkan kualitas udara seperti menyebar bibit awan hujan dan menyiram jalanan yang berhasil sedikit memperbaiki AQI.

BACA JUGA: Warga Bangkok Gunakan Celana Dalam dan Bra untuk Berlindung dari Asap Beracun

Tahun ini, warga Bangkok membakar lebih sedikit dupa dibandingkan tahun lalu, namun perbedaan itu tidak cukup untuk membuat perbedaan. Seorang pejabat di Poh Teck Tung Foundation, yang mengelola Kuil Tai Hong Kong di Chinatown Bangkok mengatakan, pihak berwenang hanya bisa memberikan imbauan dan bukan melarang.

"Karena kita hanya bisa meminta kerja sama, bukan memberlakukan larangan, kebanyakan orang masih melakukannya," kata pejabat itu.

Baca Juga: Peringati Hari Lahir Pancasila, Pengawas KKP Lakukan Upacara Bawah Laut

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini