"Penggunaan methode Rusia tidak ada hubungan dengan pemerintah dan Negara Rusia. Kalaupun ada indikasi penggunaan methode ini juga yang melibatkan konsultan-konsultan asing asal Rusia. Jelas tidak berhubungan dengan pemerintah Rusia," ucapnya.
Ace menuturkan, hubungan diplomatik antara Indonesia dan Rusia selama ini berjalan dengan baik. Hubungan persahabatan Indonesia dan Rusia justru semakin erat di era Jokowi. Bahkan terakhir pada 14 November 2018, ketika KTT ASEAN 33, Presiden Jokowi bertemu dengan Presiden Putin di Singapura untuk peningkatan kerjasama ekonomi dua negara.
Baca juga: Dukungan ASN ke Jokowi Naik, tapi Masih Kalah populer dari Prabowo
"Babak kedua dari drama Rusia yang dimainkan BPN Prabowo Sandi adalah drama Bojongkoneng. Drama Bojongkoneng adalah memainkan narasi serba lokal baik strategi lokal maupun konsultan lokal. Di era keterbukaan seperti saat ini, sangat mudah untuk melihat jejak dari penggunaan strategi Firehose of Falsehood," tandas politisi Golkar itu.
"Strategi ini jelas menjiplak dari strategi kampanye Donald Trump dan Bolsonaro. Melihat kemiripan strategi maka sulit untuk percaya itu strategi lokal ala Bojongkoneng. Dan dilihat dari cara memainkan emosi maka bisa diindikasikan juga bahwa ada penetrasi teknologi dan juga penggunaan Big Data yang disuplai dari konsultan asing," tutup Ace.
(Fakhri Rezy)