Soal Propaganda Rusia, Maksud Jokowi Mengarah ke Operasi Semburan Fitnah

Fahreza Rizky, Okezone · Selasa 05 Februari 2019 12:09 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 02 05 605 2013915 soal-propaganda-rusia-maksud-jokowi-mengarah-ke-operasi-semburan-fitnah-AxXBDuGoLT.jpeg Jokowi (biro Pers)

JAKARTA - Pernyataan calon presiden petahana Joko Widodo mengenai propaganda ala Rusia tidak berlebihan dan berdasar pada kenyataan historis. Tidak ada yang salah pada pernyataan itu.

Ketua Tim Cakra 19, Andi Widjajanto mengatakan, Propaganda Rusia yang dimaksud Jokowi mengarah kepada modus operandi yang dikenal sebagai Operasi Semburan Fitnah (Firehose of Falsehood). Operasi ini digunakan Rusia antara tahun 2012-2017 dalam krisis Crimea, konflik Ukraina, dan perang sipil di Suriah.

 Baca juga: TKN: Timses Prabowo Membenturkan Jokowi dengan Pemerintah Rusia

“Di Rusia, modus operandi ini sudah muncul di dekade 1870-an melalui gerakan Narodniki. Gerakan ini dulu dilakukan untuk menjatuhkan Czar Rusia dengan cara terus menerus memunculkan isu-isu negatif,” ujar Andi dalam keterangan tertulisnya kepada wartawan, Senin (5/2/2019).

 Jokowi

Hasilnya, muncul ketidakpercayaan masif dari rakyat Rusia terhadap sistem politik yang kemudian dikapitalisasi oleh Lenin saat Revolusi Oktober 1917.

 Baca juga: Ketum Golkar Bantah Jokowi Blunder soal Propaganda Rusia

Evolusi paling mutakhir dari modus operandi ini muncul di beberapa pemilihan umum seperti Amerika Serikat, Brasil, dan Brexit. Dalam tarung pilpres antara Donald Trump melawan Hillary Clinton, strategi semburan fitnah mencapai puncaknya. Ada pelibatan konsultan politik Roger Stone yang jago dalam menebar kampanye negatif yang sangat ofensif melalui 3 taktik: serang, serang, serang.

Andi menjelaskan, ada terabasan data pribadi melalui algoritma Cambridge Analytica. Ada juga indikasi gelar pasukan siber dengan kode topi hitam atau bintang emas yang menggunakan kecerdasan buatan untuk menggelar bots yang mampu memainkan operasi tagar secara masif.

“Operasi Semburan Fitnah bertujuan untuk membuat dusta mengalahkan kebenaran,” tambahnya.

 Baca juga: Soal Konsultan Rusia, BPN: Jangan Picu Perdebatan yang Jauh dari Kepentingan Rakyat

Operasi ini ingin menghancurkan kepercayaan publik ke otoritas politik, termasuk media. “Operasi Semburan Fitnah akan merusak demokrasi, karena itu harus dihancurkan,” ujar Andi menimpali.

Menurutnya, cara yang paling efektif untuk menghancurkan Operasi Semburan Fitnah adalah menelanjangi bagaimana operasi ini dilakukan dan melakukan intervensi media untuk mematikan taktik yang dipakai.

Misalnya, WhatsApp melakukannya dengan membatasi jumlah pesan yang bisa diteruskan oleh satu akun. Facebook melakukannya dengan mematikan akun-akun Saracen yang melakukan aktivitas ilegal di platform FB.

 Baca juga: TKN: Prabowo Sedang Panik karena Jawaban Jokowi Menelanjanginya

“Beberapa lembaga seperti PoliticaWave, Corona, atau akun patroli medsos seperti i-wulung sudah berusaha membongkar operasi semburan fitnah ini dengan membuka anomali permainan medsos yang dilakukan oleh pasukan-pasukan siber terkait dengan Pilpres 2019,” ujar Andi.

Sekadar informasi, Jokowi ketika menghadiri Forum Alumni Jawa Timur di Tugu Pahlawan Kota Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (2/2/2019) menyatakan dunia perpolitikan di Indonesia dipenuhi banyak fitnah dan kabar bohong atau hoaks.

Persoalan tersebut karena adanya adu domba ala asing. Dia mengungkapkan ada tim sukses yang menyiapkan propaganda ala Rusia. Namun, Jokowi tidak mengungkapkan siapa tim sukses dimaksud.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini