nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

TNI: Separatis Papua Cuma Cari Perhatian Internasional, Harus Diatasi dengan Penegakan Hukum

Muhamad Rizky, Jurnalis · Rabu 06 Februari 2019 16:24 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 02 06 337 2014441 tni-separatis-papua-cuma-cari-perhatian-internasional-harus-diatasi-dengan-penegakan-hukum-bH2U6tlp8K.jpg Kapuspen TNI Mayjen Sisriadi. (Foto : Muhamad Rizky/Okezone)

JAKARTA – Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Mayjen Sisriadi menilai, penembakan oleh orang tak dikenal (OTK) yang terjadi di Papua hingga menewaskan warga sipil hanya untuk mendapatkan perhatian dari dunia Internasional.

"Karena kita mempelajari, mereka ingin mendapatkan perhatian internasional sehingga mereka melakukan hal-hal yang seperti itu," ujar Sisriadi dalam diskusi bersama wartawan di Balai Media TNI, Salemba, Jakarta Pusat, Rabu (6/2/2019).

Dalam menangani kasus itu, kata Sisriadi, pemerintah telah menetapkan masalah yang terjadi di Papua merupakan tindakan kriminal sehingga untuk penyelesaiannya perlu dilakukan penegakan hukum.

"Maka ketika bicara penegakan hukum maka itu adalah fungsi utama Polri. TNI memang membantu di Papua, cuma di sana ada dua operasi yang kita gelar, yaitu operasi pengamanan perbatasan yang murni dilakukan TNI. Tapi, operasi penegakan hukum dilaksanakan oleh Polri," tuturnya.

Untuk itu, ia melanjutkan, TNI tidak bisa bertindak semena-mena untuk memberantas kelompok kriminal di Papua tersebut dan tetap menggunakan jalur hukum.

Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Mayjen Sisriadi. (Foto : Muhamad Rizky/Okezone)

"Dalam hal TNI membantu Polri maka ketika bicara TNI kemampuannya kemampuan tempur dan kemampuan nontempur yang kita punya. Panglima menggunakan istilah kinetik dan nonkinetik artinya tempur dan nontempur," ucapnya.

Lebih jauh Mantan Sesditjen Kuathan Kementerian Pertahanan (Kemhan) menjelaskan, kinetik yang dimaksud Panglima artinya menggunakan kekuatan senjata seperti pasukan yang ada di Kodam untuk membantu polisi.

"Kita juga kirim pasukan dari Jawa untuk menutup kekurangan. Karena kalau mereka semua yang ada di Papua beroperasi semua, ada markas-markas yang kosong. itu rawan sehingga ada beberapa pasukan yang dikirim dari beberapa Kodam, bukan hanya di Jawa, Sumatra, dan lainnya secara bergiliran untuk membantu tugas Polri dalam penegakan hukum di Papua," tuturnya.

Sementara lanjut Sisriadi, untuk nonkinetik, antara lain pihaknya mengirimkan tim satgas penerangan TNI yang bertugas membuat opini di masyarakat. Hal itu dilakukan agar masyarakat mendapatkan informasi yang benar.

"Karena mereka juga menggunakan cara yang sama mempengaruhi penduduk bahkan dengan sudah intimidasi. Kita tidak menggunakan intimidasi, kita menggunakan opini publik yang istilah Panglima operasi psikologi jadi mempengaruhi psikologi massa tapi yang dikirim adalah kami dari Puspen dari Dispen angkatan darat, laut, udara menjadi satu tim," tuturnya.

Ilustrasi (Shutterstock)

Sebelumnya, salah seorang warga Sugeng Efendi, menjadi korban penembakan orang tak dikenal (OTK) di Kampung Wiyukwi, Distrik Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Papua.

(Baca Juga : Pasukan TNI Diserang KKSB dari Segala Penjuru, 1 Prajurit Tertembak)

Sugeng yang sehari-hari berjualan di kios di Kampung Wiyukwi tewas ditembak OTK, pada Sabtu 2 Februari kemarin. Saat itu, korban dan temannya sedang dalam kios sambil menonton film di ponsel.

Korban selanjutnya dievakuasi ke rumah sakit dan kejadiannya dilaporkan ke pos TNI terdekat di lokasi. Anggota TNI lalu membawa korban ke RSUD Mulia dan Sugeng dinyatakan meninggal dunia.

(Baca Juga : Prada Laode Majid, Korban Penyerangan KKSB di Papua Berhasil Dievakuasi ke RSUD Mimika)

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini