nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Senior Pembunuh Taruna ATKP Makassar Terancam Dipecat

Herman Amiruddin, Jurnalis · Rabu 06 Februari 2019 17:11 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 02 06 609 2014464 senior-pembunuh-taruna-atkp-makassar-terancam-dipecat-CYdeo8rOUt.JPG Senior penganiaya taruna ATKP Makassar hingga tewas (Foto: Herman Amiruddin/Okezone)

MAKASSAR - Tersangka Muhammad Rusdi (21), pembunuh taruna Akademi Teknik Keselamatan Penerbangan (ATKP) Makassar, Aldama Putra (19) segera menjalani sanksi skorsing. Hal itu disampaikan Direktur ATKP, Agus Susanto. Langkah itu diambil setelah dirinya membentuk tim investigasi.

"Kita mengambil sikap tindakan yang memang diperlukan setelah adanya penetapan tersangka dari kepolisian," kata dia, Rabu (6/2/2019).

Menurutnya, sanksi skorsing dijatuhkan agar yang bersangkutan dapat fokus menjalani proses hukum. Namun, bila pengadilan nantinya memutuskan tersangka terbukti bersalah, maka sanksi lebih berat berupa pemecatan akan dilakukan.

"Itu yang kami tentukan sesuai yang kami sampaikan juga adalah memberikan sanksi kepada MR adalah tindakan skorsing tujuannya mempermudah proses yang sudah berjalan di kepolisian. Skorsing pertama ada penetapan yang sifatnya inkrah dari putusan pengadilan. Ya, tidak menutup kemungkinan, iya (dipecat-red)," ucap Agus.

Agus menuturkan, berdasarkan standard operasional prosedur (SOP), apabila terjadi sebuah tindak kekerasan terhadap taruna, yang pertama dilakukan pihaknya ialah menelaah duduk perkara berikut kronologisnya. Jadi, tidak serta merta mengambil keputusan tanpa dasar begitu saja.

Ilustrasi Penganiayaan

"Kami punya SOP, kita lihat kejadiannya seperti apa. Kemudian penanganannya juga sudah ada prosedurnya termasuk siapa-siapa yang pertama melakukan tindakan. Seperti kemarin itu mendegar laporan dari taruna kepada petugas jaga atau piket," tuturnya.

Berdasarkan informasi yang diterima pihaknya lanjut Agus, korban sempat mengalami pingsan. Setelah mendapat laporan, pihaknya lantas menghubungi petugas medis yang memang siaga 24 jam.

"Kemudian dilakukan tindakan yang sesuai dengan di lapangan. Itu yang laporan diterima seperti itu. Laporan dari piket taruna kepada pengasuh atau pengasuh jaga pada waktu itu," ujar Agus.

(put)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini