nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

IPW Ungkap 13 Taruna Akpol yang Dipecat Terdapat Anak Jenderal dan Kombes

Puteranegara Batubara, Jurnalis · Rabu 13 Februari 2019 11:50 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 02 13 337 2017251 ipw-ungkap-13-taruna-akpol-yang-dipecat-terdapat-anak-jenderal-dan-kombes-Ccb5IS45vX.jpg Ilustrasi Polisi (Okezone)

JAKARTA - Ind Police Watch (IPW) mengapresiasi keputusan dari Lembaga Pendidikan dan Latihan (Lemdiklat) Polri yang resmi memecat 13 taruna Akademi Kepolisian (Akpol) karena terlibat dalam kasus penganiayaan terhadap taruna tingkat II atas nama Muhammad Adam pada 18 Mei 2017 lalu.

Ketua Presidium Ind Police Watch Neta S Pane menjelaskan, apresiasi itu lantaran Lemdiklat tak pandang bulu dalam memberikan sanksi pemecatan. Mengingat, dari ke-13 taruna tersebut beberapa di antaranya merupakan anak dari perwira polisi berpangkat Jenderal dan Kombes.

 Baca juga: Lakukan Penganiayaan, 13 Taruna Akpol Resmi Dipecat

"Dari ke 13 taruna itu ada dua anak jenderal, tujuh anak kombes, dan empat anak orang biasa. Sebelumnya pengadilan negeri sudah memecat satu taruna yang terlibat, yang notabene dari anak orang biasa," kata Neta dalam keterangan tertulisnya yang diterima Okezone, Jakarta, Rabu (13/2/2019).

 https://img-z.okeinfo.net/okz/500/library/images/2019/02/13/bcfdr5ow2z14suiroykq_22006.jpg

Sikap tegas ini, kata Neta adalah sebuah langkah maju. Mengingat, selama ini penanganan kasus penganiayaan di Akpol cenderung tertutup dan baru kali ini penanganan kasus di Akpol sangat transparan.

"Dan baru kali ini pula begitu banyak Taruna Akpol dipecat akibat melakukan penyiksaan yang menyebabkan kematian. Sikap simpati terhadap keputusan tegas itu harus diberikan semua pihak agar marwah Akpol tetap terjaga," tutur Neta.

Baca juga: Putranya Jadi Tersangka Penganiayaan Taruna Akpol, Dankor Brimob: Hukum Harus Ditegakkan!

Neta menjelaskan, Akpol adalah lembaga pendidikan dan candra dimuka tempat melahirkan kader kader Polri yang profesional, humanis dan menjunjung tinggi nilai nilai HAM.

Menurutnya, Akpol tidak boleh melahirkan para algojo yang bersikap biadab yang tega membantai dan membunuh rekan sesama taruna. Neta berharap, semua pihak harus menerima keputusan ini, terutama keluarga pelaku.

"Sebab siapa yang berbuat harus berani bertanggung jawab," ucap Neta.

 Baca juga: Taruna Tewas Dianiaya, Gubernur Akpol Diperiksa Propam & Itwasum

Sebelumnya, keputusan pemecatan itu diambil setelah digelarnya sidang Dewan Akademik (Wanak) Akpol. Adapun sidang tersebut dipimpin oleh Gubernur Akpol Irjen Rycko Amelza Dahniel dan dihadiri oleh Kepala Lembaga Pendidikan dan Latihan (Kalemdiklat) Polri Komjen Arief Sulistyanto serta, sejumlah PJU Akpol sebagai anggota tetap termasuk anggota Kehormatan dari Itwasum, Divpropam, Lemdiklat, SSDM Polri, dan seluruh anggota tidak tetap Wanak.

Dalam sidang tertutup di Gedung Paramarta komplek Akpol itu akhirnya memutuskan ke 13 orang tersebut dikenakan sanksi terberat yakni Pemberhentian Dengan Tidak Hornat (PTDH) alias dikeluarkan.

Dalam kasus ini, sebetulnya ada 14 orang yang terjerat. Tetapi, pelaku utama, yakni CAS, telah dikeluarkan pada sidang Wanak yang lebih dulu digelar pada Juli 2018 silam.

Adapun, 13 taruna yang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya itu adalah MB, GJN, GCM, RLW, JEDP, dan RAP. Lalu ada IZPR, PDS, AKU, CAEW, RK, EA, dan HA. Sebelumnya ke 13 orang itu juga sudah di vonis pidana tapi saat itu sidang Wanak belum juga digelar.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini