Surat tersebut bukan dialamatkan ke anak perempuan, tetapi kepada pastor.
Di keuskupan lain, seorang pastor melecehkan anak berumur sembilan tahun dan kemudian membersihkan mulut anak laki-laki tersebut dengan air suci.
Laporan tersebut menyimpulkan bahwa paedofil predator dapat melecehkan anak-anak karena Gereja menyembunyikan tindakan mereka dengan memindahkan pastor yang bersalah ke tempat lain dan tidak melaporkan pelanggaran tersebut kepada polisi.
Tuduhan perkosaan
Pastor Franco Mulakkal memulai tugasnya di kota kecil Kerala, di pantai barat daya India, dan menjadi uskup di bagian utara negara itu.
Dia ditangkap pada bulan September 2018 setelah muncul sejumlah tuntutan dari seorang biarawati yang dia datangi secara teratur untuk diperkosa. Uskup, yang mundur untuk sementara waktu tersebut, menyangkal semua tuntutan dan mengatakan kepada wartawan bahwa hal tersebut "tidak berdasar dan dibuat-buat".
Lewat surat yang ditulis oleh biarawati kepada atasannya, sang biarawati mengaku perkosaan pertama dialami pada bulan Mei 2014 dan yang terakhir kali pada bulan September 2016.
Pada bulan Januari, para biarawati meminta menteri utama Kerala untuk campur tangan, karena Gereja diduga memaksa mereka untuk meninggalkan negara bagian itu, guna menutupi masalah.
Para biarawati mengeluh bahwa mereka dieksploitasi karena mereka sering kali bergantung pada pastor dan uskup terkait dengan tempat tinggal dan khawatir ditelantarkan jika melawan terhadap pastor yang melakukan pelecehan.
Di Malawi, prevalensi HIV di antara penduduk dewasa sampai umur 64 tahun adalah lebih dari 10%. Biarawati menduga mereka disasar karena dipandang "suci" dan lebih kecil berkemungkinan membawa virus tersebut.
'Tidak lagi'
Tahun 2012, pemerintah Australia mengumumkan pembentukan komisi yang ditugaskan untuk menyelidiki respons kelembagaan terhadap pelecehan anak-anak. Organisasi yang dilibatkan di antaranya adalah pusat penampungan anak-anak, sekolah, pusat olah raga, seni dan kelompok lain masyarakat, selain juga Gereja.
Komisi tersebut menyimpulkan 7% pastor Katolik Roma di Australia diduga melakukan pelecehan anak dari tahun 1950 sampai 2010.
Pada satu ordo keagamaan, St John of God Brothers, 40% pemimpinnya dituduh melecehkan anak-anak.

Chrissie Foster, ibu dua anak yang dilecehkan para pastor di Melbourne, mengeluhkannya ke pemerintah. Dia mengatakan kepada BBC, bukannya menjawab kekhawatirannya, keluarganya malahan menjadi bahan desas-desus.
"Mereka mengatakan kami pembohong, bahwa kami hanya berusaha mendapatkan uang," katanya.
"Itulah yang mereka katakan kepada para jemaat. Dan mereka akan meyakininya karena siapa yang percaya bahwa pastor akan memperkosa anak-anak? Lebih mudah untuk mempercayai kebohongan dari pada kebenaran bahwa para pastor melecehkan anak-anak secara seksual."
Pada bulan Agustus 2018, Gereja Katolik Roma di Australia menyampaikan tanggapan resminya kepada komisi.

Uskup Agung Mark Coleridge, ketua Konferensi Uskup Katolik Australia, mengatakan "terlalu banyak" pastor, orang beragam dan biasa di dalam Gereja di Australia yang "gagal melakukan kewajibannya untuk melindungi dan menghormati semua orang dan terutama kelompok yang paling rapuh, anak-anak kita dan generasi muda kita."
"Dengan satu perkataan, para uskup dan pemimpin ordo keagamaan yang ada di sini pagi ini menyatakan, 'Tidak pernah lagi,'" katanya.
'Pelecehan yang mengerikan'
Musim panas lalu, penyelidikan indepen di Inggris, Independent Inquiry into Child Sexual Abuse, menerbitkan laporan terkait dua sekolah Katolik Roma paling bergengsi di Inggris: Ampleforth College di North Yorkshire dan Downside School di Somerset.
Menurut laporan itu, sekolah-sekolah itu "memprioritaskan biarawan dan nama baik mereka dibandingkan perlindungan terhadap anak-anak" dan "pelecehan telah mereka lakukan selama puluhan tahun terhadap anak-anak, yang termuda berumur tujuh tahun di Ampleforth dan 11 tahun di Downside".