nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Koalisi Masyarakat Sipil Desak Polisi Setop Proses Hukum Dosen UNJ Robertus Robet

Fadel Prayoga, Jurnalis · Kamis 07 Maret 2019 16:56 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 03 07 337 2027071 koalisi-masyarakat-sipil-desak-polisi-setop-proses-hukum-dosen-unj-robertus-robet-jUrWJasEnc.jpg (Foto: Fadel Prayoga/Okezone)

JAKARTA - Koalisi Masyarakat Sipil mendesak kepolisian menyetop proses penyidikan kasus ujaran kebencian dengan tersangka aktivis sekaligus Dosen Sosiologi Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Robertus Robet. Hal tersebut karena penangkapan Robet tidak memenuhi delik hukum.

“Bukan soal fisiknya dia (Robet) dilepas atau tidak saja. Tetapi tuntutan hukum terhadapnya juga menjadi fokus kami,” kata salah satu perwakilan Koalisi Masyarakat Sipil, Bivitri Susanti saat ditemui di Gedung Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (7/3/2019).

Polisi menetapkan Robet sebagai tersangka ujaran kebencian karena diduga menghina TNI. Robet diduga memplesetkan mars ABRI saat aksi Kamisan di depan Istana Negara pada Kamis, 28 Februari 2019.

Foto: M Rizky/Okezone

Menurut dia, apa yang disampaikan Robet dalam orasinya sebatas refleksi. Seharusnya itu menjadi bahan masukan pemerintah agar tak meneruskan niat untuk memasukkan TNI ke dalam jabatan-jabatan sipil.

(Baca juga: Ini Kronologi Penangkapan Dosen UNJ Robertus Robert terkait Dugaan Menghina TNI)

Lagipula, lagu yang dinyanyikan oleh Robet itu juga ditujukan kepada institusi ABRI, sementara kini keberadaan lembaga itu sudah tiada. Hal itu merupakan kritik dan mengingatkan peran ABRI pada masa Orba yang terlibat dalam kehidupan politik praktis.

"Lagu yang dinyanyikan Robet merupakan lagu yang sering dinyanyikan oleh aktivis pada era 1990-an dan populer dinyanyikan di era reformasi sebagai bentuk pengingat bahwa peran politik ABRI pada era Orde Baru adalah sesuatu yang dapat mengganggu kehidupan demokrasi dan mengganggu profesionalisme militer,” kata dia.

Sebelumnya, Robet dipulangkan setelah ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi karena diduga melakukan penghinaan terhadap TNI.

Meski dipulangkan, penyelidikan terhadap Peneliti Indonesian Legal Rountable (ILR) itu tetap dilakukan oleh polisi. Ia juga sewaktu-waktu bisa kembali dipangil untuk melengkapi berkas perkara.

Robet diciduk polisi pada Kamis (7/3/2019), dini hari. Ia dibawa polisi untuk diperiksa lebih lanjut di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Penangkapan terhadap Robet sendiri dilakukan lantaran dirinya diduga telah melakukan penghinaan terhadap institusi TNI saat berorasi di depan Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat.

Oleh pihak kepolisian, Robet dijerat Pasal 45 A Ayat (2) ‎juncto Pasal 28 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana yang mengatur ITE dan atau Pasal 270 KUHP.

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini