Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Masuki Tahun Politik, Kaum Milenial Diminta Wapadai Paham Radikalisme

Bramantyo , Jurnalis-Kamis, 14 Maret 2019 |14:31 WIB
Masuki Tahun Politik, Kaum Milenial Diminta Wapadai Paham Radikalisme
Pengasuh Pondok Pesantren Aswaja Nusantara Yogyakarta Muhammad Mustafid dan Dosen Kajian Islam UIN Sunan Kalijaga M Yaser Arafat (foto: Bramantyo/Okezone)
A
A
A

SOLO - Generasi milenial diharapkan waspada dan tidak terjebak dalam 'ajakan atau hasutan' dari suatu kelompok radikal. Terlebih memasuki tahun politik seperti saat ini, di mana generasi milenial dituntut berpikir cerdas dan juga bijak agar tidak mudah terprovokasi.

Hal tersebut disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Aswaja Nusantara Yogyakarta, Muhammad Mustafid. Alasannya adalah hasutan oleh kelompok radikal dinilai berpotensi memecah belah bangsa dan mengancam ideologi Pancasila yang dijunjung Indonesia.

(Baca Juga: Wiranto Kumpulkan KPU, Bawaslu hingga TNI-Polri Bahas Kesiapan Kampanye Terbuka) 

"Saya sampaikan hal itu pada generasi milenial saat acara dialog publik yang digelar Himpunan Aktivis Milenial Indonesia (HAMI) kemarin," jelas Mustafid, Kamis (14/3/2019).

Pengasuh Pondok Pesantren Aswaja Nusantara Yogyakarta, Muhammad Mustafid dan Dosen kajian Islam UIN Sunan Kalijaga M Yaser Arafat dalam Diskusi Publik di Solo (foto: Bramantyo/Okezone)	 

Kewaspadaan kaum milenial terhadap gerakan kelompok radikalisme di musim politik dikhawatirkan akan mengancam NKRI. Kaum milenial, mereka menjadi sasaran untuk disususpi pemahaman radikal.

"Kaum milenial kebanyakan anak muda yang masih mencari jati diri. Sehingga generasi milenial harus tahu dan waspada," ucapnya lebih lanjut.

Dia menambahkan, kelompok radikal ingin membentuk kepemimpinan global yang dipimpin oleh kalifah. Padahal paham tersebut tidak diterapkan di Indonesia dan jelas bertentangan dengan Pancasila.

"Ideologi bangsa Indonesia Pancasila sudah sesuai dengan masyarakat kita. Menurut saya Pancasila sudah sesuai dengan Islam, karenanya tidak diperlukan perubahan ideologi seperti yang disebarkan oleh kelompok radikal karena berpotensi menyebabkan perpecahan,” urainya.

(Baca Juga: KPU Disarankan Majukan Debat Terakhir Pilpres agar Tak Mepet Masa Tenang) 

Sementara Dosen kajian Islam UIN Sunan Kalijaga M Yaser Arafat mengatakan, perlu dilakukan antisipasi agar paham radikal tidak masuk ke golongan milenial.

"Kita beri pahamaan melalui penerjemahan agama yang bisa diterima dikalangan milenial (tidak kaku), namun demikian isi terjemahan juga tidak dangkal baik delivery hingga teknologi yang digunakan,” tutur Yaser.

(Fiddy Anggriawan )

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement