Survei Pemilu 2019: Ketatnya Elektabilitas Partai Menengah

Harits Tryan Akhmad, Jurnalis · Minggu 17 Maret 2019 14:21 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 03 17 606 2031145 survei-pemilu-2019-ketatnya-elektabilitas-partai-menengah-hRPCf4lpSk.jpg Ilustrasi

JAKARTA - Pemilu 2019 merupakan kali pertama dilakukan serentak antara pemilihan presiden (Pilpres) secara langsung dengan pemilihan anggota legislatif (Pileg). PDI Perjuangan dan Gerindra sebagai partai utama pengusung capres-cawapres paling menikmati coattail effects atau efek ekor jas.

PDI perjuangan dan Gerindra dikelompokkan dalam spektrum partai nasionalis yang berpotensi menjadi partai dominan di parlemen mendatang. Lonjakan elektabilitas kedua partai tersebut dapat dilihat dari hasil survei yang dilakukan Indometer.

“Suara PDIP dan Gerindra memang mengalami peningkatan signifikan dibandingkan hasil Pileg 2014,” ungkap Direktur Eksekutif INDOMETER (Barometer Politik Indonesia), Leonard Sb, Minggu (17/3/2019).

Hasil survei yang dilakukan Indometer menunjukkan elektabilitas PDI Perjuangan mencapai 23,5 persen, sedangkan Gerindra 13,4 persen. Pada Pileg 2014, suara PDIP tidak mencapai 20 persen, sementara posisi Gerindra masih di bawah Golkar.

Posisi Golkar juga dibayangi oleh PKB, dengan elektabilitas 8,9 persen. Menurut Leonard, PKB sedikit banyak diuntungkan oleh figur Kyai Ma’ruf sebagai cawapres. Dengan latar belakang NU yang menjadi basis massa tradisional, posisi PKB relatif lebih aman dibanding Demokrat.

“Berkebalikan dengan hasil Pileg 2014, PKB juga berpeluang menggeser posisi Demokrat yang meraih elektabilitas 6,3 persen, meskipun masih termasuk lima besar,” papar Leonard.

Posisi papan tengah didominasi oleh partai-partai Islam, yaitu PPP (3,9 persen), PAN (3,7 persen), dan PKS (3,4 persen). Lalu ada Partai Nasdem yang memimpin elektabilitas papan tengah sebesar 4,1 persen. Dua partai baru menyusul, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan Perindo berhasil menembus papan tengah. PSI meraih elektabilitas 3,6 persen, sedangkan Perindo elektabilitasnya 2,8 persen.

(Baca Juga: Pemilu Kian Dekat, Hasto Minta Caleg PDIP Tak Remehkan Kompetitor)

Sisanya adalah partai-partai yang diprediksi tidak bakal lolos ke Senayan, yaitu Hanura (1,1 persen), PBB (0,9 persen), PKPI (0,8 persen), Berkarya (0,5 persen), dan Garuda (0,2 persen).

“Hanura menjadi satu-satunya partai lama yang bakal terpental tidak mendapat kursi, demikian pula dengan PBB dan PKPI yang sejak 2009 tidak meraih kursi lagi di Senayan,” kata Leonard.

Jika melihat hasil survei sejumlah lembaga sejak dimulainya musim kampanye pada September 2018 lalu, elektabilitas PSI cenderung mengalami peningkatan. Dari kisaran nol koma selama tiga bulan pertama, bergerak merayap ke 1,5 hingga 1,7 persen pada pergantian tahun. Dalam dua bulan, Februari-Maret 2019, elektabilitas PSI melonjak dari 2,8 persen menjadi 3,6 persen.

“Dua partai utama, PDIP dan Gerindra mengalami peningkatan dalam tiga bulan pertama, tetapi trend- nya kemudian menurun,” kata Leonard.

Sedangkan tiga partai besar lainnya, yaitu Golkar, PKB, dan Demokrat cenderung stabil. Demikian pula dengan partai-partai papan tengah, termasuk Nasdem dan Perindo. Leonard mengatakan, besar kemungkinan terjadi migrasi pemilih dari partai nasionalis utama yaitu PDIP dan Gerindra, di mana PSI mendapat limpahan paling banyak.

“Masih perlu pendalaman lebih lanjut, tetapi tampak terjadi pergeseran prefensi pemilih nasionalis,” pungkas Leonard.

Survei Indometer dilakukan pada 1-7 Maret 2019, dengan jumlah responden 1280 orang mencakup seluruh provinsi di Indonesia. Pengambilan sampel dilakukan secara acak bertingkat (multistage random sampling), dengan margin of error ±2,98 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Pendalaman kajian dilakukan melalui focus group discussion dengan mengundang pakar terkait.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini