JAKARTA - Pemilu 2019 merupakan kali pertama dilakukan serentak antara pemilihan presiden (Pilpres) secara langsung dengan pemilihan anggota legislatif (Pileg). PDI Perjuangan dan Gerindra sebagai partai utama pengusung capres-cawapres paling menikmati coattail effects atau efek ekor jas.
PDI perjuangan dan Gerindra dikelompokkan dalam spektrum partai nasionalis yang berpotensi menjadi partai dominan di parlemen mendatang. Lonjakan elektabilitas kedua partai tersebut dapat dilihat dari hasil survei yang dilakukan Indometer.
“Suara PDIP dan Gerindra memang mengalami peningkatan signifikan dibandingkan hasil Pileg 2014,” ungkap Direktur Eksekutif INDOMETER (Barometer Politik Indonesia), Leonard Sb, Minggu (17/3/2019).
Hasil survei yang dilakukan Indometer menunjukkan elektabilitas PDI Perjuangan mencapai 23,5 persen, sedangkan Gerindra 13,4 persen. Pada Pileg 2014, suara PDIP tidak mencapai 20 persen, sementara posisi Gerindra masih di bawah Golkar.
Posisi Golkar juga dibayangi oleh PKB, dengan elektabilitas 8,9 persen. Menurut Leonard, PKB sedikit banyak diuntungkan oleh figur Kyai Ma’ruf sebagai cawapres. Dengan latar belakang NU yang menjadi basis massa tradisional, posisi PKB relatif lebih aman dibanding Demokrat.
“Berkebalikan dengan hasil Pileg 2014, PKB juga berpeluang menggeser posisi Demokrat yang meraih elektabilitas 6,3 persen, meskipun masih termasuk lima besar,” papar Leonard.