nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Teror Masjid Christchurch, PM Selandia Baru: Pelaku Seorang Teroris, Dia Ekstremis

Rachmat Fahzry, Jurnalis · Selasa 19 Maret 2019 12:21 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 03 19 18 2032011 teror-masjid-christchurch-pm-selandia-baru-pelaku-seorang-teroris-dia-ekstremis-e6dvFwMWaS.jpg PM Selandia Baru Jacinda Ardern menemui umat Islam korban serangan teror di Christchruch. Foto/Reuters

Foto/Reuters

WELLNGTON - Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern bersumpah tidak akan pernah menyebut nama teroris yang menewaskan 50 orang dalam serangan masjid Christchurch.

Seorang pria bersenjata melakukan penembakan massal di dua masjid di kota South Island.

40 orang juga terluka di dua masjid itu saat salat Jumat.

BacaSebar Video Teror Christchurch, Pemuda Selandia Baru Terancam 14 Tahun Penjara

BacaAustralia Ungkap Penyebab Penembak Dua Masjid di Selandia Baru Tak Masuk Daftar Hitam Kepolisian

Saat berpidato kepada parlemen, Ardern mengatakan bahwa dirinya tidak akan pernah menyebut nama pelaku.

"Dia adalah seorang teroris, dia adalah seorang penjahat, dia adalah seorang ekstremis, dan dia tidak akan disebutkan namanya. Kami tidak akan memberinya apa-apa, bahkan namanya," ujar Ardern mengutip NZ Herald, Selasa (19/3/2019).

Foto/Reuters

Ia lebih memilih menceritakan kisah keberanian para petugas yang berhasil menangkap tersangka dengan menabrakan mobilnya. Ia juga menceritakan Naeem Rashid, yang meninggal saat mencoba merebut senjata dari pelaku.

Sementara Abdul Aziz, yang berasal dari Afghanistan, berani mengambil tindakan hanya berbekal kartu untuk mengalihkan teroris.

"Akan ada banyak kisah keberanian, yang beberapa di antaranya mungkin kita tidak pernah tahu. Tapi untuk kalian masing-masing, kami berterima kasih," puji Ardern.

Ardern juga mengisahkan salah satu korban yang menyambut pelaku teroris di pintu depan masjid sambil mengatakan, "halo saudaraku, selamat datang".

Ia menjanjikan bahwa pelaku akan mendapat hukuman berat sesuai hukum Selandia Baru.

Seorang pria warga Australia (28) diduga supremasi kulit putih, didakwa melakukan pembunuhan pada Sabtu pekan lalu. Dia akan dibawa ke pengadilan pada 5 April.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini