nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Era Baru Jepang Bernama "Reiwa"

Rachmat Fahzry, Jurnalis · Senin 01 April 2019 11:10 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 04 01 18 2037644 era-baru-jepang-bernama-reiwa-9eNW0FoVDg.jpeg Kepala Sekretaris Kabinet Yoshihide Suga memeperlihat nama ea Jepang "Reiwa:. Foto/AP

TOKYO – Kaisar Jepang Akihito yang mengundurkan diri pada 30 April 2019, sekaligus mengakhiri mengakhiri era "Heisei", dan digantikan anak tertua Kaisar Akihito yakni Naruhito.

Pengunduran kaisar merupakan yang pertama kali sejak 200 tahun di negeri sakura itu. Artinya, era era Naruhito adalah "Reiwa".

Nama ini diambil dari koleksi puisi abad ke-7 "Manyoshu," kata Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mengutip Reuters, Senin (1/4/2019).

Abe mengatakan bahwa nama itu berarti bahwa budaya dilahirkan dan dipelihara ketika orang-orang “saling peduli satu sama lain.”

"Dengan pemilihan nama era baru ini, saya memperbarui komitmen saya untuk merintis era baru yang akan diisi dengan harapan," kata Abe.

Ia menjelaskan bahwa Manyoshu adalah koleksi puisi tertua di Jepang dan melambangkan budaya yang kaya dan tradisi panjang Jepang.

"Kami berharap (nama era) akan diterima secara luas oleh orang-orang dan berakar dalam sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari mereka," kata kepala sekretaris kabinet, Yoshihide Suga, kepada wartawan yang pertama kali mengumumkan nama tersebut.

BacaJepang Untuk Pertama Kalinya Akan Akui Orang Ainu Sebagai Penduduk Pribumi

BacaPara Manula Jepang Memilih Masuk Penjara Berulang Kali

Nama era ditulis dalam dua karakter China dengan kaligrafi tinta hitam dengan latar belakang putih.

Pengumuman nama era ini akan memengaruhi perubahan masyarakat Jepang termasuk pemerintah, bisnis dan sektor lainnya, meskipun sistem ini tidak wajib dan kaisar tidak memiliki kekuatan politik di bawah konstitusi Jepang pascaperang.

Dalam undang-undang nama era 1979, Abe menunjuk panel ahli tentang sastra China dan Jepang klasik untuk mencalonkan dua hingga lima nama untuk dipilih pejabat tinggi. Nama-nama harus memenuhi kriteria ketat, mudah dibaca dan ditulis tetapi tidak umum atau belum pernah digunakan sebelumnya.

Prosedur pemilihan nama dimulai pada pertengahan Maret ketika Suga meminta beberapa cendekiawan tak dikenal untuk mengusulkan dua hingga lima nama era.

Beberapa nominasi disajikan pada pertemuan tertutup pertama yang melibatkan sembilan ahli luar dari berbagai bidang, termasuk ilmuwan pemenang hadiah Shinya Yamanaka dan novelis pemenang penghargaan Mariko Hayashi.

Sementara semakin banyak orang Jepang lebih memilih kalender Barat daripada sistem Jepang dalam masyarakat yang sangat digital dan global, nama era masih banyak digunakan dalam dokumen pemerintah dan bisnis.

Membahas dan menebak nama-nama era baru sebelumnya tidak dianggap tabu kali ini karena Akihito turun tahta. Perubahan nama era juga merupakan waktu bagi banyak orang Jepang untuk merenungkan dekade yang keluar dan masuk.

Era "Heisei" Akihito, yang berarti "mencapai kedamaian," adalah yang pertama tanpa perang dalam sejarah modern Jepang, tetapi juga dikenang sebagai deflasi ekonomi dan bencana alam yang hilang selama bertahun-tahun.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini